Ajang internasional bergengsi 2ⁿᵈ International Military Medicine (IMEDIC) serta 8ᵗʰ IHIA & IHIE 2025 menjadi wadah strategis bagi para profesional medis militer, akademisi, dan praktisi kesehatan untuk bertukar pengetahuan serta memamerkan inovasi di bidang kedokteran dan informatika kesehatan.Kegiatan ini diselenggarakan di Aston Kartika Hotel, Grogol, Jakarta, pada 22–24 Oktober 2025, dan diikuti oleh berbagai perwakilan institusi kesehatan nasional maupun internasional.
Dalam forum ilmiah bergengsi ini, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., tampil sebagai narasumber secara daring pada 23 Oktober 2025, dengan membawakan materi berjudul “StemShield: An AI-Driven Platform for Ethical Oversight and Dual-Use Risk Detection in Stem Cell Research.”
Dalam pemaparannya, Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menguraikan bahwa riset stem cell merupakan pilar penting dalam pengobatan regeneratif dan berkembang pesat di Indonesia, baik di universitas, lembaga riset, maupun klinik swasta. Namun, tingginya volume proposal penelitian dan publikasi menimbulkan tantangan baru dalam pengawasan etika dan keamanan riset biomedis, terutama terhadap potensi Dual-Use Research of Concern (DURC) yaitu kemungkinan hasil penelitian dimanfaatkan di luar tujuan medis yang semestinya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkanlah StemShield, sebuah platform berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk memantau aspek etika penelitian dan deteksi risiko ganda (dual-use risk detection) dalam riset stem cell.Platform ini bekerja melalui beberapa tahap: mulai dari pengumpulan data penelitian dari berbagai sumber daring, pemrosesan dan normalisasi data, hingga pelatihan model AI menggunakan machine learning dan deep learning untuk menilai kepatuhan etis serta mendeteksi potensi penyalahgunaan riset.
Marsma TNI dr. Margono Gator S, Sp.JP menjelaskan bahwa sistem ini tidak hanya mampu menilai penelitian pada satu waktu, tetapi juga memungkinkan pemantauan berkelanjutan seiring perkembangan riset. “Dengan integrasi AI, proses penilaian etika menjadi lebih akurat, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa penerapan teknologi AI di bidang riset biomedis perlu diimbangi dengan kebijakan dan regulasi nasional yang kuat agar keamanan data dan nilai kemanusiaan tetap terlindungi.
“Teknologi tanpa etika adalah langkah yang pincang. Melalui StemShield, kami ingin memastikan setiap kemajuan riset berpijak pada tanggung jawab moral dan kemanusiaan,” ujarnya.
Selain menjadi narasumber, RSPAU dr. S. Hardjolukito juga berpartisipasi dalam pameran kesehatan yang dikoordinasikan oleh Kolonel Kes Rahaju Kusdarini, S.Kep. pameran kesehatan ini berlangsung dari tanggal 22–24 Oktober 2025.
Melalui booth pameran tersebut, RSPAU menampilkan berbagai layanan unggulan, antara lain Pelayanan Stem Cell Therapy, Cathlab, Radioterapi Linac, serta Modernisasi Alat Kesehatan Berteknologi Tinggi.
Booth RSPAU menjadi salah satu daya tarik bagi para peserta konferensi. Banyak pengunjung yang antusias mendapatkan informasi mengenai perkembangan layanan medis di lingkungan TNI Angkatan Udara, khususnya inovasi pelayanan berbasis teknologi yang kini telah diterapkan di RSPAU.
Partisipasi RSPAU dalam ajang 2ⁿᵈ IMEDIC dan 8ᵗʰ IHIA & IHIE 2025 ini bukan sekadar bentuk kehadiran simbolik di forum internasional, melainkan wujud nyata kontribusi RSPAU dalam mendorong transformasi digital dan penguatan riset etis di bidang kesehatan militer Indonesia.
Melalui semangat kolaborasi global, RSPAU terus menegaskan eksistensinya sebagai pusat layanan medis militer yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kemanusiaan serta masa depan. Humas RSPAU

Komentar