- 31
- Mei
- 2025
Rokok bukanlah
sekadar lintingan tembakau yang dibakar. Rokok mengandung lebih dari 7.000
bahan kimia berbahaya, dan di antaranya lebih dari 70 zat bersifat
karsinogenik atau penyebab kanker. Ketika seseorang merokok, ia tidak hanya
menghisap nikotin untuk memuaskan kecanduan, tetapi juga menelan perlahan
ancaman terhadap paru-paru, jantung, otak, bahkan sistem reproduksi. Merokok
bukan hanya kebiasaan, tapi bentuk perlahan-lahan menyakiti tubuh sendiri,
tanpa terasa hingga akhirnya tubuh tak lagi mampu bertahan.
Data dari WHO
(World Health Organization)
menunjukkan bahwa merokok membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun
di seluruh dunia. Dari angka itu, sekitar 1,2 juta adalah perokok pasif—orang-orang
yang tidak merokok, namun menghirup asap rokok orang lain. Artinya, rokok tak
hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga orang-orang terdekat: pasangan,
anak-anak, orang tua, teman kerja, bahkan masyarakat umum. Jadi, ketika
seseorang memilih untuk berhenti merokok, ia tidak hanya menyelamatkan dirinya,
tapi juga menyelamatkan orang lain.
Berhenti merokok
bukan hal yang mudah, apalagi jika sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun.
Namun, bukan berarti mustahil. Langkah awalnya adalah kesadaran bahwa
merokok bukanlah bagian dari gaya hidup sehat, dan bahwa tubuh kita layak untuk
dicintai dan dijaga. Tubuh yang bebas dari nikotin memiliki kemampuan luar
biasa untuk memulihkan diri. Dalam waktu 20 menit setelah berhenti merokok,
denyut jantung mulai kembali normal. Dalam 12 jam, kadar karbon monoksida dalam
darah turun. Dalam waktu beberapa minggu, fungsi paru-paru membaik, dan risiko
serangan jantung mulai menurun.
Berhenti merokok
adalah bentuk self-love. Sama seperti ketika kita meninggalkan hubungan
toksik yang merusak jiwa, meninggalkan rokok adalah cara kita mengatakan: “Saya
layak hidup sehat.” Ini bukan soal larangan, bukan pula sekadar tuntutan
kesehatan, melainkan sebuah keputusan penuh cinta kepada tubuh yang telah
bekerja keras setiap hari menopang aktivitas kita.
Sayangnya, banyak orang masih terjebak dalam persepsi bahwa merokok adalah cara menghilangkan stres, bersosialisasi, atau bahkan terlihat “dewasa.”
Quality of life adalah suatu terminologi yang menunjukkan tentang kesehatan, fisik, sosial dan emosi seseorang serta kemampuannya melaksanakan tugas sehari-hari (Cummins dalam Imanda, 2016). Kualitas hidup didefinisikan sebagai kondisi hidup yang baik yang bersama-sama dengan kesejahteraan subjektif positif (Zapf dalam Noll, 2012). Kualitas hidup didefinisikan sebagai hubungan antara dua elemen subjektif atau berbasis manusia dan satu set keadaan obyektif (Noll, 2012). Jadi kualitas hidup adalah persepsi atau pandangan subjektif individu terhadap kehidupannya dalam konteks budaya dan nilai yang dianut oleh individu dalam hubungannya dengan tujuan personal, harapan, standar hidup dan perhatian yang mempengaruhi kemampuan fisik, psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial dan lingkungan
Lansia
Lansia
(lanjut usia) adalah proses alamiah yang terjadi pada seseorang karena telah
memasuki tahap akhir dari siklus hidupnya. Fase ini ditandai dengan
perubahan-perubahan yang memengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara
keseluruhan, yang dikenal sebagai proses penuaan atau aging process.
Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, lansia adalah seseorang yang, karena usianya, mengalami perubahan
biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini berdampak pada berbagai
aspek kehidupan, termasuk kesehatan. Oleh karena itu, kesehatan lansia
memerlukan perhatian khusus agar mereka dapat terus hidup secara produktif dan
berperan aktif dalam pembangunan, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Menurut Fatmah (2010), lansia merupakan proses
alamiah yang terjadi secara berkesinambungan pada manusia dimana ketika menua
seseorang akan mengalami beberapa perubahan yang pada akhirnya akan
mempengaruhi keadaan fungsi dan kemampuan seluruh tubuh. Sedangkan menurut
Wahyudi (2008), lansia adalah seseorang yang telah memasuki tahapan akhir dari
fase kehidupan. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan mengalami suatu
proses yang disebut Aging Process atau proses penuaaan.
Menurut Maryam (2008), terdapat beberapa istilah
lanjut usia, antara lain manusia lanjut usia (manula), manusia usia lanjut
(lansia), usia lanjut (usila), serta ada yang menyebut golongan lanjut umur
(glamur). Menurut Undang-undang No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut
usia, seseorang dikatakan lanjut usia apabila telah mencapai usia 60 (enam
puluh tahun) ke atas. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa masa
lansia dibagi menjadi 4 golongan, yaitu usia pertengahan (Middle Age),
yaitu kelompok dengan rentang usia 45-59 tahun, usia lanjut (Elderly),
yaitu kelompok dengan rentang usia antara 60-70 tahun, lanjut usia tua (Old),
yaitu kelompok dengan rentang usia antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua (Very
Old) kelompok dengan rentang usia 90 tahun ke atas.
Adanya peningkatan
populasi lanjut usia (lansia) dikarenakan menurunnya angka kematian serta
penurunan jumlah kelahiran, menyebabkan terjadinya perubahan struktur
demografi. Seperti Negara-negara lain dikawasan Asia Pasifik, Indonesia akan
mengalami penuaan penduduk dengan amat sangat cepat. Populasi lansia yang
meningkat menuntut pemerintah untuk mengambil kebijakan dan program yang
ditujukan kepada lansia, agar mereka tetap dapat memiliki peran dalam
masyarakat. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
lansia sehingga mereka dapat menjalani masa tua dengan sehat dan bahagia.
Upaya kesehatan lansia
dimulai sejak seseorang mencapai usia 60 tahun, dengan tujuan menjaga kesehatan
agar tetap hidup sehat, berkualitas, dan produktif. Upaya ini mencakup
pemeliharaan kebersihan diri, konsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik rutin,
kehidupan sosial yang aktif, kesempatan berkarya, serta lingkungan yang ramah
bagi lansia.
Hal penting lainnya adalah
imunisasi untuk mencegah penyakit dan deteksi dini termasuk skrining. Upaya
rehabilitatif, seperti fisioterapi, psikoterapi, dan pemberian obat-obatan,
juga diberikan sebagai lanjutan dari pelayanan kuratif. Sementara itu, upaya
paliatif bertujuan mengurangi keluhan yang dialami lansia, agar mereka dapat
menjalani akhir kehidupan dengan bermartabat.
Kesehatan fisik dan mental
menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan pada lansia. Orang yang sudah
memasuki masa lansia perlu memperhatikan asupan makanan yang sehat dan seimbang
serta menjaga berat badan agar tidak terlalu tinggi atau rendah. Selain itu,
lansia juga perlu melakukan aktivitas fisik yang teratur, seperti jalan kaki
atau olahraga ringan, untuk menjaga kesehatan jantung, paru-paru, otot, dan
tulang.
Pencegahan penyakit juga
krusial pada lansia, mengingat risiko terhadap penyakit jantung, diabetes, dan
stroke meningkat seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, lansia perlu
menghindari faktor risiko seperti merokok, konsumsi alkohol, dan pola makan
tidak sehat. Pemeriksaan kesehatan berkala juga penting untuk mendeteksi dini
kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus seperti pemeriksaan
kesehatan mata, gigi, dan telinga.
Kesehatan mental tidak
kalah pentingnya. Lansia harus waspada terhadap tanda-tanda depresi dan segera
mencari dukungan jika diperlukan. Kesehatan fisik dan mental yang terjaga akan
meningkatkan kualitas hidup lansia dan memperpanjang harapan hidup mereka.
Perawatan jangka panjang diperlukan bagi lansia yang
membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat keterbatasan
fisik, mental, atau intelektual. Peran keluarga sangat penting dalam mendukung
lansia untuk tetap sehat, aktif, dan terlibat dalam kegiatan sosial, serta
dalam memberikan pendampingan bagi mereka yang membutuhkan perawatan jangka
panjang.
Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Lansia
Peningkatan kualitas hidup lansia dapat dicapai dengan
menerapkan tujuh dimensi lansia tangguh, yang diharapkan dapat mencegah
kerentanan lansia yang ditimbulkan oleh berbagai perubahan yang dialami,
meliputi:
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]--> Dimensi Spiritual Melalui pembinaan dimensi spiritual,
diharapkan akan mengurangi kecemasan yang dirasakan oleh lansia. Melalui
bimbingan agama, Lansia melatih diri untuk bisa mengetahui arti dan tujuan
hidupnya, mencintai dan merasa dicintai serta memiliki rasa keterikatan dengan
Tuhan, dan pemenuhan kebutuhan
untuk mendapatkan aman.
<!--[if !supportLists]-->2.
<!--[endif]-->Dimensi Intelektual
memberi dan Lansia harus terus menstimulasi kerja otak untuk mengantisipasi
melambatnya kerja otak, serta meminimalisir timbulnya gangguan karena
menurunnya fungsi intelektual. Dengan menjaga dimensi intelektual diharapkan
lansia terhindar dari macam-macam penurunan fungsi intelektual. Menstimulasi
kerja otak bisa dilakukan dengan menulis, membaca, bermain alat musik,
dll.
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Dimensi fisik Peningkatan populasi lansia tentunya juga akan
diikuti dengan peningkatan risiko menderita berbagai penyakit kronis.
Adanya penyakit kronis pada
lansia dapat menurunkan kualitas
hidup khususnya dimensi kesehatan
fisik, oleh karena itu, menjaga kesehatan lansia sangat penting
dilakukan, seperti menjaga pola makan dan sesuai keadaannya. Kontrol monitor
rutin kesehatannya
4.
Asupan gizi, istirahat yang
cukup, dan olahraga ringan seperti jalan-jalan sore.
5. Dimensi
Emosional Kondisi emosional Lansia merupakan keadaan psikologis Lansia meliputi
aspek kemampuan berpikir, perasaan, maupun sikap yang tampak melalui perilaku
yang dapat dilihat. lansia dibantu dengan keluarga untuk menstabilkan emosinya,
dihrapkan agar lansia mampu memahami emosi, mengontrol emosi diri, serta mampu
melakuakan hubungan sosial yang baik.
6. Sosial
Kemasyarakatan Pembangunan dimensi sosial kemasyarakatan dimaksutkan untuk
membangun keluarga yang bisa mendampingi, dan merawat lansia, karena tempat terbaik
bagi Lansia adalah keluarga. Diharapkan keluarga dan masyarakat mampu
memperhatikan, memberikan pelayanan, memberikan bantuan sosial, da pemberdayaan
lansia. Dimensi Profesional Vokasional Merupakan kondisi kemampuan lansia dalam
mengembangkan dirinya. Bertujuan untuk mencapai derajat kemandirian dan
kualitas hidup yang prima. Indikator dari dimensi profesional vokasional adalah
pengembangan usaha ekonomi oleh lansia. Usaha ekonomi produktif yang bisa
dilakukan seperti membatik, bidang kuliner, dan bidang industri rumah tangga
7.
Dimensi Lingkungan kondisi lansia dalam berpartisipasi di lingkungan
sekitarnya. Indikator dari dimensi
lingkungan berupa partisipasi lansia dalam kegiatan lingkungan fisik dan non fisik.
Bertujuan agar terciptanya kondisi lingkungan yang kondusif di lingkungan
sekitar lansia meliputi: lingkungan beraktivitas, lingkungan bersih dan sehat,
lingkungan mental spiritual dan lingkungan sosial budaya
Kesehatan mental atau yang juga dikenal dengan istilah mental
health adalah kondisi kesehatan yang berkaitan dengan aspek kejiwaan,
psikis, dan emosional seseorang. Mental Health mencerminkan keadaan
kesehatan mental seseorang, termasuk tingkat keseimbangan emosional, kemampuan
mengatasi tekanan dan kualitas hubungan interpersonal. Seseorang dapat
dikatakan memiliki good mental health adalah apabila memiliki ketenangan
jiwa dalam menjalani hidupnya. Sebaliknya seseorang yang kesehatan mentalnya
terganggu akan merasa kesulitan dalam mengendalikan emosinya bahkan dapat
mempengaruhi hubungan dengan orang lain, kemampuan dalam berfikir atau bahkan
memicu munculnya keinginan untuk melukai diri. Oleh karena itu betapa
pentingnya kesehatan mental dalam kehidupan sehari – hari.
Fenomena
saat ini banyak meningkatnya stresor dalam kehidupan sehari – hari sehingga
berdampak yang sebelumnya banyak penyakit
fisik menjadi bergeser ke penyakit jiwa. Saat ini banyak orang yang sudah
pandai untuk menjaga kesehatan fisiknya dengan berolahraga (lari, bersepeda,
renang, dll) secara mandiri. Banyak
fasilitas tempat kesehatan dibangun yang bisa dipakai untuk sarana olah raga
seperti sarana jogging track, tempat nge-gym, kolam renang untuk
umum, persewaan tempat olahraga sudah ada dimana - mana sehingga banyak orang
yang sudah bisa menjaga kesehatan fisiknya secara mandiri. Hal ini berbanding
terbalik dengan stresor yang dihadapi dalam kehidupan sehari - hari. Kita lihat
di medsos, berita televisi, dll dari pagi sampai malam menampilkan banyak sekali
informasi yang membuat kita semua menjadi stres. Belum masalah kehidupan yang
lain misalnya biaya hidup mahal, biaya sekolah mahal, sulitnya mencari
pekerjaan,dll yang semuanya bisa menjadi pencetus timbulnya stres. Oleh karena
itu saat ini banyak penyakit fisik yang bergeser menjadi penyakit jiwa (potensi
timbulnya penyakit jiwa lebih banyak daripada penyakit fisik).
Angka Kejadian / Prevalesi gangguan jiwa
sebenarnya tinggi di masyarakat. Kasus yang paling trend di masyarakat yaitu Skizofrenia
(Gila) mengenai sekitar 5% populasi di Indonesia. Kasus yang tidak kalah juga
yang sering datang berobat ke dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam,
dokter spesialis saraf dan psikiater adalah gangguan cemas dan depresi yang
prevalensinya sekitar 10 – 15?ri populasi global. Sehingga sejak tahun 2020 WHO
menetapkan gangguan depresi menempati penyakit peringkat ke 2 dunia setelah
gangguan jantung dan pembuluh darah. Hampir semua penyakit fisik ujung –
ujungnya bermuara menjadi sakit jiwa. Apalagi kalau penyakit fisik tersebut
harus menjalani terapi seumur hidup misalnya Kencing manis, darah tinggi, gagal
ginjal, stroke, kanker dan lain – lain. Hal tersebut semuanya membutuhkan
Psikiater dalam kolaborasi terapi dengan spesialis dibidang lain.
Mungkin kita sering mendengar di lingkungan
kita orang yang mengeluh penyakit yang bermacam – macam dan berpindah – pindah
seperti maag yang hilang timbul, sering kepala pusing, pegal – pegal, badan
terasa tidak enak, sampai sering lemes dan keluar keringat dingin sampai susah
tidur tetapi saat periksa ke dokter dan sudah dilakukan bermacam – macam
pemeriksaan penunjang semua hasilnya normal sehingga dokter mengatakan tidak
sakit. Pasti pasiennya jengkel dan tidak percaya sehingga pasien akan berpindah
– pindah dokter untuk periksa (shooping dokter).
Hal
tersebut di atas yang disebut psikosomatis atau dalam bidang kesehatan jiwa
disebut gangguan somatoform. Psikosomatis / gangguan somatoform
sebenarnya disebabkan oleh gangguan cemas dan depresi (stres). Gangguan ini ditandai
dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan
pemeriksaan medis meskipun sudah berkali – kali dilakukan hasilnya normal
tetapi pasien tetap saja minta dilakukan pemeriksaan penunjang. Kalaupun
kebetulan ada kelainan yang bissa diketemukan saat dilakukan pemeriksaan
penunjang tetapi hasil tersebut tidak bisa menjelaskan hubungannya dengan keluhan
yang dikemukakan pasien. Mengapa bisa seperti itu? karena gangguan psikosomatis
atau gangguan somatoform penyebabnya adalah gangguan pikiran / psikis ( cemas
dan depresi ) atau dalam bahasa awam sering disebut stres bukan karena kelainan
di organ / fisiknya, jadi kelainannya ada di program pikirannya ( Mind Set
) yang dimanifestasikan ke badan makanya disebut Psikosomatis. Psiko artinya
psikis, Somatis artinya badan. Jadi Psikosomatis artinya gangguan dipsikis yang
manifestasi sakitnya dirasakan dibadan. Karena penyebabnya psikis sehingga saat
dilakukan pemeriksaan penunjang misalnya laboratorium, EKG, USG, ronsen, CT
Scan, MRI, dll semuanya normal.
Mengapa saat terjadi psikosomatis keluhannya
bisa bermacam-macam ?
Di saat orang mengalami gangguan cemas
dan depresi (stres) maka ada 3 sistem tubuh yang merespon dan masing – masing
respon akan menimbulkan manifestasi keluhan yang berbeda – beda di badan yaitu
:
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Ketegangan motorik
Manifestasi keluhan di badan berupa :
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Otot
sering kedutan / otot seperti bergerak - gerak sendiri
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Otot
tegang dari tengkuk sampai kepala ( nyeri kepala )
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Cemas
/ gelisah
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Mudah
lelah walau sedang tidak bekerja berat
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Hiperaktivitas saraf otonom
Manifestasi keluhan di badan berupa :
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Nafas
pendek dan berat ( nyesek )
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Jantung
berdebar / sering deg deg an
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Telapak
tangan basah dan dingin
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Mulut
kering ( sering haus )
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Pusing
melayang / vertigo
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Maag
yang tidak sembuh – sembuh kadang sampai sering diare ( lebih banyak dikenal di
masyarakat dengan nama GERD )
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Sering
kencing walau tidak banyak minum dan tidak memiliki rawat diabet
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Sukar
menelan padahal tidak sedang radang tenggorokan
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Kewaspadaan berlebihan dan
penangkapan yang berkurang
Manifestasi keluhan di badan berupa :
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Badan
sering sakit – sakit semua sehingga penginnya dipijit terus
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Mudah
kaget
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Sulit
konsentrasi / mudah lupa
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Sulit
tidur / insomnia
<!--[if !supportLists]-->-
<!--[endif]-->Mudah
tersinggung / sering marah - marah
Semuanya apabila ditotal ada 17 keluhan,
banyaknya keluhannya tergantung dari derajatnya apakah ringan atau sedang atau
berat psikosomatinya. Semakin berat
psikosomatis maka semakin banyak keluhan yang muncul ( jadi indikator di atas
bisa dijadikan cek lis untuk mengetahui berat ringannya keluhan, semakin berat
berarti semakin banyak cek lis yang positif / muncul dirasakan oleh pasien
sehingga itu akan mencerminkan berat ringannya gangguan cemas dan depresi /
stres yang diderita oleh pasien )
Apa yang harus dilakukan ?
Pasien yang mengalami psikosomatis dapat
segera datang ke poli psikiatri. Mengapa tidak ke poli umum atau poli penyakit
dalam atau poli saraf ? karena pasien psikosomatis memerlukan penegakan
diagnosa dengan tes psikometri bukan pemeriksaan penunjang dengan mengguanakan alat
medis saja, juga pasien psikosomatis memerlukan konseling telaah penyebab cemas
dan depresi / stres bukan hanya sekedar di anamnesa biasa, juga pasien
psikosomatis tidak cukup dengan menggunakan obat saja tetapi memerlukan
pengobatan dengan pendekatan psikoterapi yang tentunya semua itu hanya bisa
dilakukan oleh Psikiater.
Selama ini kebanyakan orang akan merasa
tidak nyaman bila berobat ke dokter jiwa atau sering di sebut Psikiater. Hal
ini disebabkan karena prasangka dan stigma dari masyarakat terhadap orang –
orang yang berobat ke dokter jiwa / Psikiater. Masyarakat kita kebanyakan
menganggap orang sakit jiwa berat alias Gila yang datang ke dokter jiwa /
psikiater. Pendapat ini tentunya salah besar. Tidak salah memang dokter jiwa /
psikiater dikatakan mengobati pasien sakit jiwa berat alias Gila atau dalam
bahasa kedokterannya Skizofrenia. Tetapi pasien skizofrenia hanyalah sebagian kecil
dari pasien yang datang ke dokter jiwa / psikiater. Selebihnya adalah pasien –
pasien yang mengalami gangguan cemas, depresi / stres, masalah pribadi /
sosial, pasien – pasien sakit fisik yang mengalami gangguan psikologis akibat
sakit kronik yang dideritanya, termasuk juga pasien dengan Psikosomatis adalah
ranah terapinya dokter jiwa / Psikiater.
Cobalah mulai sekarang memakai panduan
17 keluhan di atas apabila ada pasien dengan keluhan mulai dari 1 keluhan yang
paling ringan sampai 17 keluhan yang paling berat dan saat dilakukan pemeriksaan dengan alat medis ( pemeriksaan
penunjang ) normal semua maka pasien tersebut masuk katagori menderita
PSIKOSOMATIS yang disebabkan oleh gangguan cemas dan depresi / stres serta
jangan malu / takut untuk berobat ke Psikiater. Karena untuk menyembuhkan
gangguan jiwa tidak cukup hanya dengan meningkatkan ibadah ( mendekatkan diri
kepada Allah ), rekreasi, berolah raga, meditasi dan lain – lain.
Departemen Jiwa RSPAU dr. S.
Hardjolukito mempunyai sarana dan prasarana yang cukup lengkap serta representatif
dalam penanganan penyakit – penyakit dengan gangguan jiwa maupun penyakit –
penyakit fisik yang kombinasi ke gangguan jiwa juga. Di Poli Psikiatri melayani
mulai dari pelayanan Tes Psikometri ( untuk mendukung penegakan diagnosa
gangguan jiwa dan men skor berat ringannya penyakit jiwa, MMPI tes ( tes untuk
masuk TNI / POLRI / PNS atau jabatan – jabatan strategis lainnya ), surat
keterangan bebas narkoba, surat keterangan sehat mental dan konseling. Poli
Psikiatri RSPAU dr. S. Hardjolukito mempunyai fasilitas yang sangat nyaman dan exclusive
dan menerapkan sistem pelayanan One Top Service ( semua proses pelayanan
dari mulai pendaftaran, konseling, apotik dan pembayaran berada dalam satu
tempat pelayanan) sehingga pasien tidak perlu mondar mandir kemana – mana.
Untuk pasien yang harus rawat inap karena kondisi gangguan jiwa yang berat,
Paviliun Psikiatri RSPAU dr. S. Hardjolukito juga bisa merawat dengan fasilitas
yang cukup nyaman dan lengkap karena di Paviliun Psikiatri mempunyai bangunan yang
masih baru, bagus, minimalis modern sehingga tidak terkesan angker dengan
demikian pasien tidak merasa dikucilkan atau diisolasi selama dalam perawatan.
RSPAU dr. S. Hardjolukito menggelar acara pengantar purna tugas bagi Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., yang telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Kepala RSPAU ke-11. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (28/5/25), dalam suasana khidmat dan penuh penghormatan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian dan kontribusi beliau. Acara diawali dengan Apel Luar Biasa Undur Diri yang diikuti oleh seluruh anggota rumah sakit, di mana beliau menyampaikan salam perpisahan dan rasa terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama masa tugasnya.
Rangkaian acara dilanjutkan di Ruang Garuda Satu, yang dihadiri oleh pejabat rumah sakit serta pengurus PIA Ardhya Garini 001-05-3 RSPAU dr. S. Hardjolukito. Dalam sambutannya, Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan memimpin RSPAU, meskipun dalam waktu singkat sejak Maret hingga Mei 2025. Beliau menitipkan harapan besar agar transformasi dan inovasi yang telah dimulai terus dilanjutkan oleh generasi penerus dengan semangat profesionalisme dan pengabdian tulus kepada bangsa dan negara.
Meski hanya menjabat selama dua bulan, Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto Sp.B., telah menunjukkan komitmen tinggi dalam memajukan RSPAU. Beliau aktif mendorong peningkatan tata kelola rumah sakit, memperkuat koordinasi lintas bidang, serta mendukung program-program unggulan termasuk pengembangan sarana dan prasarana medis. Acara juga diwarnai pemberian cinderamata, sesi foto bersama, serta ramah tamah yang menggambarkan kehangatan dan kedekatan antara beliau dan seluruh civitas hospitalia.
Sebagai simbol penghormatan, foto Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., dipasang di Galeri Kepala RSPAU, menandai estafet kepemimpinan dalam sejarah rumah sakit. Prosesi jajar pengantar pun dilaksanakan untuk mengiringi kepergian beliau secara resmi. Sebelumnya, penyerahan jabatan kepada Kadiskesau telah dilangsungkan secara resmi di Jakarta, didahului exit briefing dan laporan akhir masa jabatan. Seluruh keluarga besar RSPAU menyampaikan terima kasih dan doa terbaik, mengenang beliau sebagai pemimpin yang bersahaja, berdedikasi, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan RSPAU menuju pelayanan yang terbaik.
Di tengah kemajuan teknologi informasi yang semakin
pesat, kemudahan akses internet telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan
sehari-hari, termasuk dalam dunia militer. Namun, di balik manfaat tersebut,
terselip ancaman serius yang dapat merusak tatanan disiplin dan moral seorang
prajurit, salah satunya adalah judi online. Fenomena ini tidak hanya
mengganggu stabilitas ekonomi dan psikologis individu, tetapi juga dapat
menghancurkan karier dan kehidupan seorang anggota militer. RSPAU dr. Suhardi
Hardjolukito sebagai bagian dari TNI AU berkomitmen untuk turut memberikan
sosialisasi tentang bahaya judi online, terutama bagi para prajurit TNI
yang memiliki tanggung jawab dan kehormatan untuk dijaga.
Judi online bukan sekadar hiburan digital. Di balik
kemasannya yang menarik dan menjanjikan keuntungan cepat, tersimpan risiko
kecanduan yang tinggi. Seorang prajurit yang terjerat judi online perlahan akan
kehilangan fokus, loyalitas, dan kedisiplinan, yang notabene adalah fondasi
utama dalam kehidupan militer. Seperti yang disampaikan oleh Kababinkum TNI
Laksamana Muda Kresno Buntoro, sanksi tegas berupa pemecatan akan
dijatuhkan kepada prajurit TNI yang terbukti terlibat dalam aktivitas ini. Ini
bukan sekadar ancaman, melainkan bentuk nyata dari komitmen TNI dalam menjaga
integritas dan kehormatan institusi.
Dampak negatif dari judi online sangat luas dan serius. Pertama,
kecanduan adalah konsekuensi utama yang sering terjadi. Kecanduan ini bersifat
psikologis dan dapat memengaruhi perilaku serta pengambilan keputusan seorang
prajurit, sehingga berisiko menurunkan kinerja dan semangat juang. Dalam jangka
panjang, kecanduan judi online juga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan seperti
kecemasan berlebihan, depresi, bahkan dorongan untuk menyakiti diri sendiri.
Kedua, judi online
seringkali mendorong individu untuk melakukan tindakan kriminal. Ketika uang
habis dan kecanduan tak tertahankan, sebagian orang nekat mencari jalan pintas
dengan mencuri, menipu, atau bahkan meminjam uang dari rentenir. Hal ini tentu
bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran dan kehormatan yang dijunjung tinggi
dalam dunia militer.
Ketiga, risiko terhadap
keamanan siber juga menjadi perhatian serius. Situs judi online ilegal kerap
menjadi pintu masuk bagi malware dan peretasan data pribadi. Informasi sensitif
yang mungkin dimiliki oleh seorang prajurit, jika jatuh ke tangan yang salah,
bisa menjadi ancaman terhadap keamanan negara.
Keempat, dampak finansial
dari judi online sangat destruktif. Uang gaji yang seharusnya digunakan untuk
kebutuhan keluarga dan masa depan malah dihabiskan untuk taruhan yang tidak
pasti. Akibatnya, kondisi ekonomi keluarga terganggu, bahkan bisa menyebabkan
konflik rumah tangga yang berujung pada perceraian atau keretakan hubungan
sosial.
Kelima, selain dampak
keuangan, judi online juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Perasaan
bersalah, tekanan karena hutang, dan rasa malu karena ketergantungan terhadap
judi dapat menyebabkan gangguan psikologis berat. Dalam kondisi tertentu,
prajurit yang tertekan bisa kehilangan kendali, bahkan mengancam keselamatan
diri dan orang lain.
Yang paling fatal, terlibat dalam judi online dapat
mengakibatkan pemecatan dari dinas militer. Hal ini bukan hanya mengakhiri
karier seorang prajurit, tetapi juga mencoreng nama baik pribadi, keluarga, dan
satuan tempatnya bertugas. TNI sebagai institusi pertahanan negara tidak
mentolerir segala bentuk pelanggaran moral dan hukum, termasuk keterlibatan
dalam praktik judi online.
RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito bersama TNI AU terus
berkomitmen dalam memberikan edukasi, pencegahan, serta pendampingan bagi
prajurit yang berpotensi atau telah terpapar bahaya judi online. Kami mengajak
seluruh elemen TNI dan masyarakat untuk bersama-sama memerangi bahaya judi
online. Lindungi diri, keluarga, dan institusi dari kehancuran yang disebabkan
oleh kebiasaan berjudi. Bangun kesadaran, mulai dari lingkungan terkecil, untuk
menciptakan budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Ingatlah, kehormatan seorang prajurit adalah
segala-galanya. Jangan gadaikan masa depan demi kesenangan sesaat. Judi online
bukan solusi, melainkan jebakan yang siap menghancurkan. Mari kita jaga
komitmen, integritas, dan semangat juang dalam bingkai disiplin dan tanggung
jawab. Karena satu langkah salah hari ini, bisa jadi menghapus seluruh prestasi
yang telah diperjuangkan selama ini. Humas RSPAU
Kepala RSPAU dr.
S. Hardjolukito melaksanakan acara penyerahan jabatan Kepala RSPAU dr. S.
Hardjolukito kepada Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Udara (Kadiskesau) dalam
sebuah upacara resmi yang berlangsung di Diskesau, Jakarta, pada Senin
(26/5/25). Penyerahan jabatan ini dilakukan seiring berakhirnya masa pengabdian
Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B yang akan memasuki masa purna tugas.
Hingga saat ini, belum ada penunjukan resmi pejabat baru sebagai Kepala RSPAU
dr. S. Hardjolukito. Oleh karena itu, untuk menjaga kesinambungan tugas dan
fungsi kepemimpinan di RSPAU dr. S. Hardjolukito, tanggung jawab jabatan
sementara diserahkan kepada Kadiskesau.
Kadiskesau Marsma
TNI dr. Agung Maryanto, SpB., SubspBD(K)., FINACS, FICS., FISA., dalam
sambutannya menegaskan pentingnya kesinambungan kepemimpinan dalam menjaga mutu
layanan kesehatan di lingkungan TNI AU. Beliau juga menyampaikan apresiasi atas
kepemimpinan Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., selama menjabat sebagai
Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito.
“Saya mengucapkan
terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Marsma TNI dr. Aplin
Ismunanto, Sp.B., atas segala bentuk dedikasi, komitmen, dan pengabdian yang
luar biasa selama menjabat sebagai Kepala RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito.,”
ungkap Kadiskesau.
Dalam suasana
haru dan penuh kekeluargaan, Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., bersama Ibu
Liliek Aplin Ismunanto turut menyampaikan pamit purna tugas kepada segenap
jajaran Diskesau dan keluarga besar kesehatan TNI AU. Dalam sambutannya, beliau
mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan dukungan selama menjalankan
amanah sebagai Kepala RSPAU.
Pada kesempatan
ini Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., menyampaikan rasa syukur atas
kesempatan yang diberikan untuk memimpin RSPAU serta menyampaikan terima kasih
kepada seluruh jajaran Diskesau, civitas hospitalia RSPAU, dan mitra kerja atas
dukungan dan sinergi selama masa jabatannya.
“Saya mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Kadiskesau atas kepercayaan, bimbingan, serta arahan
yang senantiasa diberikan selama saya menjalankan tugas. Dukungan dari
Kadiskesau beserta jajaran menjadi kekuatan tersendiri bagi saya dan seluruh
civitas hospitalia RSPAU dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesehatan
terbaik bagi keluarga besar TNI AU maupun masyarakat umum. Saya mohon doa restu
dari Kadiskesau, seluruh pimpinan, rekan-rekan, dan keluarga besar Diskesau,
karena mulai saat ini saya akan memasuki masa purna tugas dan kembali ke
masyarakat. Namun begitu, hati saya akan tetap bersama TNI Angkatan Udara,
terutama keluarga besar Diskesau yang telah menjadi bagian dari hidup dan
pengabdian saya selama ini,” kata Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B.
Pada kesempatan
ini juga dilaksanakan penyerahan jabatan Ketua PIA Ardhya Garini Anak Ranting
001-05-3 RSPAU dr. S. Hardjolukito kepada Ketua PIA Ardhya Garini Ranting 05-3
Diskesau Gabungan Mabesau, sebagai bagian dari rangkaian serah terima jabatan.
Acara berlangsung
dengan khidmat dan diakhiri dengan jabat tangan dan foto bersama sebagai bentuk
penghormatan dan kenangan atas dedikasi Marsma dr. Aplin, Sp.B selama memimpin
RSPAU dr. S. Hardjolukito. Humas RSPAU
Dalam era digital seperti saat ini, reputasi dan kepercayaan
terhadap suatu institusi tidak hanya dibangun dari layanan langsung, tetapi
juga melalui jejak digital yang terekam secara luas di internet. Menyadari
pentingnya hal tersebut, Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) dr. S.
Hardjolukito mengajak seluruh masyarakat dan pengguna layanan untuk
berpartisipasi aktif dalam memberikan ulasan (review) di platform
Google.
Melalui kampanye “Review Kami di Google”, RSPAU dr. S.
Hardjolukito berharap dapat menjangkau lebih banyak masyarakat serta membangun
citra layanan kesehatan yang transparan, profesional, dan terpercaya.
Partisipasi Anda sangat berperan dalam membantu calon pasien mendapatkan
gambaran yang jelas tentang kualitas pelayanan yang tersedia di rumah sakit
ini.
Cara
Memberikan Review
Memberikan
ulasan sangat mudah dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Anda dapat:
✅ Scan QR Code yang tersedia
di poster atau banner resmi rumah sakit.
✅ Atau kunjungi tautan langsung
berikut: https://bit.ly/Review_RSPAU_Hardjolukito
✅ Setelah itu, pilih jumlah bintang
yang sesuai dengan kepuasan Anda terhadap layanan — beri bintang 5 (★★★★★)
jika Anda merasa puas.
✅ Tambahkan komentar atau ulasan
singkat yang menggambarkan pengalaman Anda selama menggunakan layanan di RSPAU
dr. S. Hardjolukito.
Mengapa
Ulasan Anda Penting?
Ulasan yang Anda
berikan bukan sekadar angka atau komentar biasa. Setiap bintang dan kalimat
yang Anda tulis akan membantu:
Semakin banyak
ulasan positif yang diberikan, semakin tinggi kepercayaan publik terhadap
pelayanan yang ada. Ini juga menjadi salah satu bentuk penghargaan bagi tenaga
kesehatan yang telah bekerja keras memberikan layanan terbaik.
Dukungan kecil Anda lewat ulasan bisa memberikan dampak besar bagi banyak
orang.
Beri bintang 5 hari ini, karena suara Anda adalah semangat kami untuk terus
melayani!
Dalam dunia
pelayanan publik, kepercayaan masyarakat merupakan modal utama yang tak
ternilai. Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) dr. Suhardi Hardjolukito menyadari
sepenuhnya bahwa membangun dan menjaga kepercayaan itu membutuhkan integritas
yang kokoh, transparansi dalam tata kelola, serta komitmen untuk menjunjung
tinggi etika profesi. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah
penolakan tegas terhadap praktik gratifikasi dalam bentuk apa pun. Melalui
kampanye “Bersih dari Gratifikasi, Berkualitas dalam Melayani”, RSPAU tidak
hanya menegaskan integritas lembaganya, tetapi juga membangun budaya pelayanan
publik yang sehat, profesional, dan berorientasi kepada kepuasan pasien dan
keluarganya.
Gratifikasi, yang
seringkali dipahami sebagai pemberian dalam bentuk uang, barang, atau fasilitas
kepada penyelenggara pelayanan, dapat merusak sendi-sendi profesionalisme dan
keadilan dalam layanan publik. Praktik semacam itu cenderung menciptakan
ketimpangan perlakuan, menurunkan kualitas layanan, dan yang lebih parah,
mengikis kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan negara. RSPAU
memandang bahwa gratifikasi adalah bentuk penyimpangan yang tidak sejalan
dengan nilai-nilai militer, moral kedokteran, serta prinsip tata kelola yang
baik (good governance). Oleh karena itu, seluruh civitas hospitalia RSPAU,
mulai dari tenaga medis, paramedis, hingga staf administratif, diingatkan untuk
selalu menolak segala bentuk gratifikasi dan fokus memberikan layanan yang
tulus dan berkualitas tanpa pamrih.
Komitmen ini
diperkuat dengan implementasi program pengendalian gratifikasi yang
terintegrasi ke dalam sistem manajemen rumah sakit. Dalam pelaksanaannya, RSPAU
membentuk mekanisme pelaporan gratifikasi, menyediakan sarana pengaduan
masyarakat, serta melaksanakan sosialisasi internal secara berkala. Tujuannya
adalah membangun kesadaran kolektif bahwa integritas adalah pondasi utama dari
profesionalisme. Dengan budaya organisasi yang bersih dan transparan, seluruh
proses pelayanan—mulai dari administrasi pasien, konsultasi medis, tindakan
medis, hingga perawatan lanjutan—dilakukan secara objektif, adil, dan berbasis
standar prosedur yang ditetapkan.
Tak hanya itu, RSPAU
juga menanamkan prinsip pelayanan humanis sebagai bagian dari etos kerja.
Pelayanan yang diberikan bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif,
melainkan mencerminkan kepedulian terhadap hak pasien, empati terhadap kondisi
mereka, dan keikhlasan untuk membantu pemulihan kesehatan secara optimal.
Melalui pendekatan ini, RSPAU terus berupaya menjadi institusi kesehatan
militer yang tidak hanya unggul dalam kompetensi medis, tetapi juga menjadi
teladan dalam integritas layanan publik.
Sebagai bagian
dari TNI Angkatan Udara, RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito juga mengusung
nilai-nilai “AMPUH” (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis) dalam
setiap aspek pelayanannya. Dalam konteks ini, “Adaptif” berarti mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan harapan masyarakat yang semakin
tinggi terhadap kualitas layanan kesehatan. “Modern” menandakan bahwa RSPAU
senantiasa memperbarui teknologi dan metode pelayanan kesehatan. “Profesional”
merujuk pada dedikasi dan kompetensi tenaga medis yang terus ditingkatkan.
“Unggul” menunjukkan keunggulan dalam hasil pelayanan, sedangkan “Humanis”
menjadi wujud dari komitmen moral untuk melayani dengan hati.
Kampanye “Bersih
dari Gratifikasi” bukan sekadar slogan, melainkan manifestasi nyata dari
integritas yang dijalankan. Setiap tenaga kesehatan di RSPAU tidak hanya
dituntut untuk kompeten secara klinis, tetapi juga berkarakter kuat dalam
menjaga amanah pelayanan publik. Dengan demikian, pasien dan keluarganya dapat
merasa aman, nyaman, dan dihargai selama menjalani perawatan di rumah sakit
ini. Ini adalah bentuk nyata dari pelayanan kesehatan yang bermartabat—di mana
keselamatan, hak, dan martabat pasien menjadi prioritas utama.
Akhirnya, melalui
upaya ini, RSPAU ingin menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat bahwa
institusi ini berkomitmen penuh membangun pelayanan kesehatan yang bersih,
transparan, dan profesional. Mari bersama-sama mendukung gerakan anti
gratifikasi dalam dunia pelayanan kesehatan, karena pelayanan yang bebas dari
gratifikasi adalah pondasi dari layanan yang adil, berkualitas, dan terpercaya.
Hanya dengan integritas, kita bisa mewujudkan sistem kesehatan nasional yang
unggul dan manusiawi, serta menjadikan RSPAU sebagai rumah sakit militer yang
menjadi kebanggaan bangsa dan TNI Angkatan Udara. Humas RSPAU
Dalam kehidupan sehari-hari, es teh manis menjadi salah
satu minuman favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang menyegarkan, mudah
dibuat, dan cocok disajikan di berbagai suasana membuatnya begitu populer di
berbagai kalangan. Namun di balik kenikmatan tersebut, tersembunyi risiko
kesehatan yang tidak bisa diabaikan jika konsumsi gula tidak dikendalikan.
Gula, secara fisiologis, merupakan salah satu sumber
energi utama bagi tubuh. Namun, konsumsi gula berlebih, terutama yang berasal
dari minuman manis seperti es teh manis, telah terbukti berkontribusi terhadap
berbagai penyakit kronis. Diabetes melitus tipe 2, obesitas, penyakit jantung,
hingga gangguan metabolisme lainnya menjadi momok yang mengancam kesehatan
masyarakat akibat kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan. Menurut
rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asupan gula tambahan yang aman
bagi orang dewasa sebaiknya tidak melebihi 10?ri total kebutuhan energi harian,
atau sekitar 50 gram (12 sendok teh) per hari.
Sayangnya, minuman seperti es teh manis seringkali
dikonsumsi tanpa kesadaran akan kandungan gulanya. Dalam satu gelas es teh
manis biasa, bisa terdapat hingga 4–6 sendok teh gula, bahkan lebih jika ditambah
sirup atau pemanis buatan. Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi
menjadi bagian dari pola hidup harian—disajikan di pagi hari, siang hari saat
makan, atau malam hari saat bersantai. Jika tidak dibarengi dengan aktivitas
fisik yang memadai, konsumsi gula seperti ini dapat menjadi sumber “kalori
kosong” yang menumpuk dan memicu permasalahan kesehatan jangka panjang.
“Berilah gula secukupnya…” tidak hanya sekadar saran gizi, tetapi juga mengandung nilai
kehidupan: bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah membawa kebaikan.
Dalam konteks ini, konsumsi es teh manis adalah simbol dari bagaimana manusia
perlu menyeimbangkan kenikmatan dan kesehatan, tanpa mengorbankan salah satunya
secara ekstrem.
“seperti
mencintai dia, sewajarnya…”.
Cinta yang tulus dan sehat bukanlah yang berlebihan,
posesif, atau tanpa kendali, melainkan yang proporsional dan penuh kesadaran.
Begitu pula dengan konsumsi gula. Memberi “rasa manis” pada hidup
diperbolehkan, bahkan dibutuhkan, tetapi dalam kadar yang wajar dan terukur.
Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara tubuh dan apa
yang kita konsumsi.
Sebagai institusi kesehatan yang menjunjung tinggi nilai
TNI AU AMPUH (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, Humanis), RSPAU dr.
S. Hardjolukito telah membuktikan diri sebagai pelopor edukasi kesehatan yang
komunikatif dan membumi. Edukasi ini tidak hanya menyasar aspek medis semata,
tetapi juga menyentuh sisi emosional dan psikologis masyarakat dengan bahasa
yang mudah dipahami dan menyenangkan. Dalam era digital saat ini, pendekatan
seperti ini jauh lebih efektif dibanding sekadar penyampaian angka atau
larangan kaku yang justru sering diabaikan.
Di sisi lain, masyarakat pun perlu berperan aktif dalam
menerjemahkan pesan ini ke dalam kebiasaan nyata. Mulailah dengan hal
sederhana, seperti mengurangi jumlah gula saat membuat teh, mengganti sebagian
konsumsi gula dengan pemanis alami seperti madu, atau lebih sering minum air
putih dibanding minuman manis kemasan. Perubahan kecil yang konsisten akan
memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Sebagai penutup, mari menjaga kesehatan tubuh dan
kehidupan secara umum. Es teh manis memang menyegarkan, tetapi kebijaksanaan
dalam menakar gulanya adalah cerminan cinta terhadap diri sendiri. Sama seperti
mencintai seseorang, manisnya tidak perlu berlebihan—cukup sewajarnya, agar
tidak menyakitkan. Karena kesehatan bukanlah soal larangan, tetapi pilihan
cerdas untuk hidup lebih baik. Humas RSPAU
RSPAU dr. S. Hardjolukito menerima kunjungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta pada Kamis (22/5/25). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Garuda Satu ini merupakan bagian dari agenda supervisi dan monitoring evaluasi pelaksanaan Kepaniteraan Klinik bagi mahasiswa profesi dokter. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., yang menyambut hangat kehadiran rombongan dari FK UKDW. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas kepercayaan FK UKDW dalam menjadikan RSPAU sebagai salah satu rumah sakit jejaring untuk mendukung pendidikan kedokteran klinis.
Rombongan FK UKDW dipimpin oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter, dr. Hariatmoko, Sp.B., FINACS, dan turut serta beberapa perwakilan dari jajaran akademik serta tim Komkordik RS Bethesda Yogyakarta. Dalam kegiatan tersebut dibahas berbagai aspek evaluasi pelaksanaan kepaniteraan klinik, penyampaian masukan dari rumah sakit jejaring, serta rencana tindak lanjut guna meningkatkan mutu pendidikan klinik di lingkungan FK UKDW.
Acara berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan komitmen bersama untuk terus memperkuat kerja sama strategis antara institusi pendidikan dan fasilitas layanan kesehatan. Humas RSPAU
Dalam dekade terakhir,
kemajuan teknologi telah membawa perubahan yang luar biasa di berbagai bidang
kehidupan kita, tidak terkecuali dalam bidang kesehatan. Teknologi bidang
kesehatan berperan penting dalam upaya deteksi dini terhadap permasalahan
Kesehatan, penyakit, epidemiologi.
Deteksi dini adalah upaya-upaya
untuk mengetahui atau mengenali secara awal. Deteksi dini penyakit berarti adalah
suatu upaya-upaya untuk mengenali seawal mungkin ada tidaknya suatu penyakit,
kelainan atau kerusakan fisik atau gangguan perkembangan mental atau perilaku
dengan menggunakan beberapa metode/prosedur.
Sehingga deteksi dini juga merupakan bentuk usaha preventif
sejak awal terhadap indikasi-indikasi akan terjadinya gangguan atau penyakit.
Dengan demikian, berbagai penyakit dapat segera dikenali dan pengobatan juga bisa
segera dilakukan sedini mungkin.
Melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit bisa
dilakukan dengan secara rutin atau berkala melakukan pemeriksaan kesehatan
atau sering kita kenal dengan MCU ( Medical
Chek Up ).
Manfaat
Melakukan Deteksi Dini
Dengan
melakukan deteksi dini penyakit, kita bisa mendapatkan banyak manfaat, seperti
:
Tujuan
dan Manfaat MCU Bagi Kesehatan
Apakah MCU bisa mendeteksi adanya penyakit? Tes MCU adalah
serangkaian pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang
secara komprehensif, menyeluruh, dan mendeteksi penyakit sedini mungkin.
Walaupun sedang dalam kondisi sehat, ada banyak manfaat
melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Tes ini sebaiknya dilakukan satu
tahun sekali, baik di akhir tahun atau awal tahun, biasanya dilakukan
bertepatan pada tanggal dan bulan kelahiran atau dengan kata lain pada saat
ulang tahun.
Beberapa manfaat tes MCU sebagai berikut :
Proses
Medical Check Up
Rangkaian
atau jenis-jenis pemeriksaan akan tergantung pada usia, jenis kelamin, dan
kondisi kesehatan keseluruhan dari pasien.
Berikut
ini proses pelaksanaan MCU sebagai berikut:
1.
Pemeriksaan Riwayat Kesehatan
Pada tahap ini, dokter atau perawat akan melakukan anamnesa
/ wawancara terkait keluhan yang sedang atau pernah dialami dan riwayat
kesehatan keluarga. Pertanyaan lainnya adalah perihal gaya atau pola hidup
tidak sehat / bad habit yang selama ini dikerjakan oleh pasien.
2.
Pemeriksaan tanda vital
Tim medis akan melakukan beberapa prosedur pemeriksaan yang
bertujuan untuk mengetahui:
3.
Pemeriksaan fisik
Dokter akan meminta pasien untuk berbaring, duduk, atau
berdiri. Posisinya akan tergantung pada bagian tubuh mana yang diperiksa. Tim
medis juga akan memeriksa kulit, rambut, kuku, telinga,hidung, tenggorok dan
mata, pasien.
4.
Pemeriksaan penunjang
Beberapa pemeriksaan tambahan yang lakukan, antara lain:
<!--[if gte vml 1]>
Hal-hal
yang harus dipersiapkan sebelum Medical Check Up
Sebelum melakukan rangkaian prosedure tes MCU, diperlukan
adanya beberapa persiapan. Antara lain adalah:
RSPAU dr. S.
Hardjolukito melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari
Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 pada Selasa pagi (20/5/25) di Lapangan
RSPAU. Upacara ini dipimpin langsung oleh Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito,
Marsma TNI dr. Aplin Ismunanto, Sp.B., dan diikuti oleh seluruh civitas
hospitalia RSPAU dengan khidmat dan semangat nasionalisme yang tinggi.
Mengusung tema "Bangkit
Bersama Wujudkan Indonesia Kuat", upacara ini menjadi momentum
reflektif bagi seluruh angota RSPAU untuk meneladani semangat persatuan dan
kebangkitan bangsa yang telah digelorakan sejak berdirinya Budi Utomo pada 20
Mei 1908 silam.
Dalam amanatnya,
Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito membacakan sambutan resmi dari Menteri
Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Dalam sambutan tersebut
disampaikan bahwa peringatan Harkitnas bukan sekedar mengenang tanggal dalam
kalender nasional, namun merupakan pengingat akan semangat kebangkitan kesadaran
nasional, keberanian, dan semangat untuk menolak penjajahan serta membangun
bangsa dengan kekuatan sendiri.
“117 tahun yang
lalu, di tengah tekanan kolonialisme, lahir kesadaran baru yang menyulut api
perubahan. Melalui Budi Utomo, bangsa ini membangun keyakinan bahwa kemajuan
harus bersumber dari kekuatan sendiri,” kata Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito
saat membacakan sambutan.
Sambutan tersebut
juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi
teknologi, krisis pangan global, hingga ketegangan geopolitik dan ancaman
terhadap kedaulatan digital. Dalam menghadapi semua itu, Indonesia diharapkan
mampu tampil sebagai trusted partner di kancah global dengan tetap
berpegang pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Tak hanya di
tingkat global, semangat kebangkitan juga terlihat dalam pembangunan nasional,
termasuk di bidang kesejahteraan sosial, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan
sumber daya manusia. Program-program seperti makan bergizi gratis, layanan
pemeriksaan kesehatan gratis, hingga penguatan pelatihan vokasi dan talenta
digital disebut sebagai fondasi dasar untuk membangun kebangkitan nasional yang
berkelanjutan.
Di akhir
sambutan, ditekankan pentingnya kontribusi seluruh elemen bangsa untuk
bersama-sama mewujudkan Indonesia yang kuat dan mandiri, termasuk di antaranya
institusi pelayanan publik seperti rumah sakit TNI yang berperan dalam menjaga
kesehatan masyarakat dan prajurit.
Upacara
berlangsung dengan tertib dan penuh makna. Semangat kebangkitan nasional yang
tercermin dalam amanat dan kehadiran seluruh civitas hospitalia menjadi
pengingat bahwa RSPAU sebagai institusi di bidang kesehatan militer dan publik,
turut berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia yang kuat, sehat, dan
berdaulat. Humas RSPAU