Daftar Berita

Hadirkan Senyum Baru, RSPAU Dampingi Pemulihan Pasien Operasi Bibir Sumbing

Tak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain melihat anaknya tersenyum bahagia, lepas dari rasa sakit atau rasa malu. Itulah momen-momen haru yang kembali hadir hari ini di RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito, saat para pasien bibir sumbing datang untuk menjalani kontrol pasca operasi. Senyum-senyum kecil yang dulu tertahan, kini mulai merekah perlahan, penuh harapan dan penuh kehidupan.

Pasien-pasien ini sebelumnya telah menjalani operasi bibir sumbing pada 26 Juli 2025, dalam program Bakti Sosial Kesehatan memperingati Hari Bakti ke-78 TNI Angkatan Udara, hasil kerja sama antara RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito, Smile Train Indonesia dan PABMI DIY dan YSHN.

Hari ini, mereka Kembali bukan untuk tindakan besar, melainkan untuk memastikan bahwa penyembuhan mereka berjalan dengan baik. Dalam suasana penuh kekeluargaan, tim medis RSPAU melakukan evaluasi terhadap luka operasi, memeriksa proses pemulihan, serta memberikan edukasi lanjutan kepada pasien dan orang tua yang mendampingi. Semua dilakukan dengan penuh semangat dan  empati, karena di balik tindakan medis ini, ada harapan besar yang di lambungkan ke langit untuk pulih dan membesarkan kepercayaan diri demi masa depan yang lebih baik.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menyampaikan bahwa kontrol hasil operasi ini merupakan bagian penting dari rangkaian layanan terpadu.

 “Baksos bukan hanya tentang tindakan operasi, tetapi juga tentang keberlanjutan pemulihan pasien. Kami ingin memastikan bahwa setiap senyum yang kami bantu pulihkan, bisa tumbuh menjadi kebahagiaan jangka panjang,” ungkapnya.

Sementara itu, dari salah satu orang tua pasien menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. 

Kami tidak tahu harus berterima kasih seperti apa, karena ini bukan sekadar operasi,  ini adalah awal dari hidup baru bagi anak kami,” 

Dengan semangat pelayanan dan pengabdian, RSPAU dr. S. Hardjolukito akan terus berkomitmen memberikan layanan terbaik, tak hanya menyembuhkan secara fisik, tetapi juga memulihkan psikis, memberikan semangat hidup baru. Karena bagi kami, menghadirkan satu senyum berarti menghidupkan sejuta harapan. Humas RSPAU

Memperingati Pekan ASI Sedunia

World Breastfeeding week (Pekan Asi Sedunia) diperingati pada pekan pertama bulan Agustus yaitu tanggal 1 sampai dengan 7 Agustus setiap tahunnya. Merupakan kampanye global untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi pada tema-tema yang berkaitan dengan  ibu menyusui. Pekan ASI sedunia dianggap sebagai salah satu kampanye gabungan terbesar yang dilakukan oleh organisasi internasional, seperti organisasi kesehatan dunia (WHO) dan UNICEF). Pekan ASI Sedunia bertujuan untuk mempromosikan manfaat menyusui.

Tahun ini pekan ASI sedunia mengangkat tema " Invest in breastfeeding Invest in the Future" yang artinya investasi dalam menyusui investasi untuk masa depan. Tema ini menekankan pentingnya menyusui sebagai investasi jangka panjang untuk kesehatan anak, kesejahteraan ibu dan pembangunan bangsa. 

Lalu apa yang dibutuhkan untuk mendukung para ibu menyusui ?

Dukungan bagi perempuan yang menyusui dimana saja dan kapan saja., sehingga menjadi hal yang lumrah dan tidak dikecam dalam lkehidupan publik.

Hal cuti hamil yang efektif yang tidak memaksa perempuan untuk memilih antara keluarga dan pekerjaan mereka.

tenaga kesehatan terlatih yang dapat memberikan dukungan menyusui yang bermanfaat dan  penuh rasa hormat. 

Tak Perlu ke Luar Negeri, Terapi Stem Cell Tercanggih Kini Tersedia di RSPAU

Ribuan warga Indonesia setiap tahunnya memilih pergi ke luar negeri demi mendapatkan terapi pengobatan regeneratif seperti stem cell. Kini, kebutuhan itu tak perlu lagi ditempuh jauh-jauh. RSPAU dr. S. Hardjolukito secara resmi membuka layanan Klinik Stem Cell, menghadirkan solusi medis canggih yang aman, terstandar, dan terjangkau langsung di jantung Yogyakarta. Langkah monumental ini menandai babak baru dalam transformasi layanan kesehatan di lingkungan TNI Angkatan Udara, sekaligus memperluas akses masyarakat umum terhadap teknologi pengobatan masa depan. Peresmian Klinik Pelayanan Stem Cell TNI AU secara nasional dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., yang terpusat di Lakespra dr. Saryanto, Jakarta, Rabu (30/7/2025).

Peresmian klinik di Jakarta ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita oleh Kasau, disaksikan oleh sejumlah pejabat tinggi TNI AU seperti Pangkoopsudnas Marsdya TNI Minggit Tribowo, S.I.P., Dankodiklatau Marsdya TNI Dr. Arif Mustofa, M.M., CGRE., Founder & Commissioner SCCR Prof. Dr. dr. Agung Putra, M.Si.Med., serta perwakilan dari PT Regene dan Eltekers.

Kasau menegaskan bahwa kehadiran layanan stem cell merupakan bagian dari kesiapan TNI AU dalam mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demi mewujudkan sistem kesehatan militer yang modern, responsif, dan inklusif. Beliau secara khusus menyoroti kesiapan RSPAU sebagai salah satu pusat rujukan layanan stem cell untuk penyakit jantung di lingkungan TNI AU dan wilayah Yogyakarta.

“Kami ingin memastikan seluruh personel TNI AU mendapatkan akses terhadap pengobatan dan pencegahan terbaik. Kehadiran klinik ini bukan hanya untuk prajurit, tetapi juga untuk masyarakat umum, sebagai bentuk kontribusi nyata TNI AU dalam mendukung program pemerintah di bidang kesehatan. RSPAU dengan keunggulan tenaga medis spesialis jantung, kami proyeksikan sebagai salah satu rumah sakit rujukan terapi stem cell untuk penanganan penyakit jantung,” ungkap Kasau.

Klinik ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara TNI AU dengan Stem Cell and Cancer Research (SCCR), PT Regene, dan Eltekers sebagai mitra teknologi. Dengan layanan unggulan berupa terapi stem cell regeneratif dan precision health berbasis DNA, klinik ini menawarkan pengobatan yang lebih personal, tepat sasaran, dan berorientasi pada pemulihan jangka panjang.

Terapi stem cell menjadi salah satu inovasi paling menjanjikan dalam dunia medis modern. Teknologi ini memungkinkan penanganan berbagai penyakit degeneratif seperti osteoartritis, cedera otot dan tendon, gangguan metabolik, hingga kelainan sistem imun, dengan cara meregenerasi sel dan jaringan tubuh yang rusak. Hasilnya, pemulihan berlangsung lebih cepat dan kualitas hidup pasien meningkat secara signifikan.

Namun, di Indonesia layanan terapi stem cell yang aman, terstandar, dan terjangkau masih terbatas, khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Melihat potensi besar sekaligus tantangan tersebut, TNI Angkatan Udara mengambil langkah strategis dengan menghadirkan layanan klinik stem cell melalui Rumah Sakit Jajaran TNI AU sebagai bagian dari jejaring pelayanan nasional.

Dalam seremoni peresmian klinik secara nasional, Kepala RSPAU Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP. hadir langsung di Jakarta sebagai bentuk dukungan penuh terhadap pengembangan layanan kedokteran regeneratif. Sementara itu, jajaran pejabat RSPAU di Yogyakarta turut mengikuti rangkaian acara secara daring.

Pada sesi virtual, Kolonel Kes dr. Yanuar Tirtajaya, Sp.OT., selaku Koordinator Layanan Stem Cell RSPAU, memberikan paparan langsung kepada Kasau mengenai kesiapan operasional dan layanan yang telah berjalan di RSPAU. Klinik ini nantinya akan melayani prajurit TNI AU dan juga terbuka bagi masyarakat umum, dengan sistem pelayanan yang terstandar, profesional, dan mengedepankan prinsip keamanan medis.

Dengan dibukanya layanan Klinik Stem Cell di RSPAU, Yogyakarta kini memiliki akses terhadap teknologi pengobatan regeneratif yang sebelumnya sulit dijangkau. Layanan ini memperkuat peran RSPAU sebagai pusat rujukan medis regional yang tidak hanya melayani kebutuhan kesehatan militer, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung kesehatan masyarakat luas.

Partisipasi aktif Kepala RSPAU dalam momen bersejarah ini menjadi simbol komitmen kuat RSPAU dalam mendukung transformasi layanan kesehatan TNI AU yang Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis (AMPUH). Dengan semangat Transformasi dan Inovasi untuk Melayani yang Terbaik, RSPAU dr. S. Hardjolukito siap menjawab tantangan masa depan dan menjadi bagian dari solusi kesehatan nasional berbasis teknologi tinggi. Humas RSPAU

RSPAU Melangkah Tegas, Tunjukkan Integritas di Tengah Pemeriksaan Keuangan BPK RI

RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan kegiatan Entry Meeting Pemeriksaan Kepatuhan atas Pengelolaan Pendapatan, Belanja, dan Aset Tahun Anggaran 2024 sampai dengan triwulan III pada Badan Layanan Umum (BLU) Unit Organisasi TNI AU. Kegiatan ini dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).

Entry Meeting digelar secara resmi pada Senin (4/8/25), bertempat di ruang Garuda 1 RSPAU. Tim pemeriksa BPK RI yang dipimpin oleh Ibu Silpana Suryani, S.H., selaku Pengendali Teknis 2, beserta anggota tim lainnya hadir untuk memulai proses pemeriksaan yang dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 3 hingga 16 Agustus 2025.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., secara langsung menerima kedatangan tim pemeriksa dan menyampaikan komitmennya untuk mendukung seluruh proses pemeriksaan dengan penuh transparansi dan akuntabilitas.

"Pemeriksaan laporan keuangan merupakan salah satu langkah strategis dalam memastikan bahwa setiap penggunaan anggaran dan sumber daya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Melalui pemeriksaan ini, kita dapat mengetahui sejauh mana pengelolaan keuangan telah dilakukan sesuai prinsip akuntabilitas dan transparansi. Hal ini juga merupakan realisasi dari predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) yang menjadi komitmen bersama di lingkungan RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito. Kami berkomitmen untuk terus menerapkan prinsip good governance serta menciptakan lingkungan kerja yang bersih dan bebas dari praktik korupsi," kata Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito.

Beliau juga mengajak seluruh anggota yang menjadi objek pemeriksaan untuk bersikap kooperatif dan proaktif, agar hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh tim BPK benar-benar akurat dan bermanfaat untuk mencegah penyimpangan dan kesalahan.

Pemeriksaan ini merupakan bagian dari upaya memastikan tata kelola keuangan dan aset BLU TNI AU berjalan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, sekaligus menjadi sarana pengawasan dan peningkatan kualitas pengelolaan keuangan di lingkungan RSPAU.

Dengan pelaksanaan pemeriksaan ini, RSPAU berharap dapat terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya demi mendukung layanan kesehatan terbaik bagi prajurit TNI AU dan masyarakat luas. Humas RSPAU

 

Ka RSPAU Guncang Jogja Cardiology Update 2025, Dorong Revolusi Ilmiah Nasional

Gaung RSPAU dr. S. Hardjolukito kembali menggema di panggung ilmiah nasional. Kali ini, forum ilmiah bergengsi Jogja Cardiology Update 2025 menjadi saksi kehadiran luar biasa Kepala RSPAU, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP., sebagai narasumber utama dalam pertemuan tahunan yang menghadirkan para ahli kardiologi dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini digelar di Hotel Tentrem Yogyakarta, pada Sabtu (2/8/25).

Lebih dari 300 peserta yang terdiri dari dokter umum hingga spesialis jantung memenuhi ruangan, antusias mengikuti pemaparan Kepala RSPAU yang membawakan topik terkini berjudul “Advanced Heart Failure: From Transplantation to Palliative Care.”

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh energi, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito menyampaikan fakta bahwa kasus gagal jantung stadium lanjut kini meningkat tajam dan tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan konvensional. Beliau menekankan perlunya transformasi paradigma penanganan, menjadi menciptakan kualitas hidup yang lebih baik, melalui transplantasi jantung serta pendekatan paliatif yang melibatkan tim dan keluarga.

“Ini bukan lagi soal hidup atau mati, ini tentang bagaimana pasien menjalani sisa hidupnya dengan bermakna, dengan martabat, dan dengan dukungan penuh dari tim medis dan keluarga,” tegas Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., yang sontak mendapat respons positif dari audiens.

Keterlibatan Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dalam forum ilmiah nasional ini sekaligus menunjukkan bahwa RSPAU tidak hanya berdiri sebagai benteng kesehatan TNI AU, namun juga menjadi mercusuar pengetahuan dan inovasi kedokteran modern di Indonesia.

Partisipasi aktif RSPAU dalam forum nasional seperti ini merupakan bukti nyata bahwa rumah sakit milik TNI AU ini terus bergerak dinamis, bertransformasi, dan berinovasi tanpa henti dalam mewujudkan layanan kesehatan yang tidak hanya tangguh di medan tugas, tetapi juga unggul di kancah ilmiah nasional. Humas RSPAU

 

 

Life After Breakup: Dari Luka Menjadi Level Up

Putus cinta sering terasa seperti bumi runtuh di bawah kaki. Hati remuk, pikiran kusut penuh overthinking, dan malam terasa panjang tanpa akhir. Awalnya, lari menjadi jawaban—bukan lari dari kenyataan, tapi lari dari kekacauan di kepala. Setiap tarikan napas di udara pagi, setiap langkah kaki di trotoar, dan keringat yang menetes di dahi menjadi pelarian dari rasa sakit yang sulit diungkapkan. Jogging, yoga, dan olahraga ringan yang dimulai hanya untuk melepaskan penat perlahan-lahan berubah menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Niat awalnya sederhana: “hilangkan stres, buang kepenatan.” Tidak ada tujuan besar, hanya ingin sedikit lega dan tenang. Namun, seperti sungai yang menemukan jalannya sendiri, kebiasaan ini mulai mengalir dalam kehidupan. Setiap langkah di pagi hari membawa rasa lega, setiap gerakan yoga membuat tubuh terasa hidup, dan setiap tetes keringat seakan menandai satu langkah menjauh dari masa lalu yang menyakitkan.

Seiring waktu, pelarian itu berubah menjadi kebiasaan. Tubuh yang dulu lelah dan rapuh mulai berubah: energi bertambah, otot terasa lebih kuat, dan postur tubuh membaik. Yang awalnya sekadar “lari dari sakit hati” kini menjadi ritual self-care yang konsisten. Hati yang dulu rapuh mulai menerima proses penyembuhan, dan tubuh ikut menyesuaikan diri, seolah ikut merayakan transformasi yang terjadi di dalam diri.

Perubahan fisik ini juga berdampak pada psikologis. Semakin tubuh sehat, semakin mental terasa tangguh. Dari sini, muncullah kesadaran bahwa self-love bukan sekadar kata, tapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Memberi waktu untuk diri sendiri, merawat tubuh, dan menghargai kebutuhan emosional menjadi bentuk cinta paling tulus. Olahraga pun berperan sebagai terapi bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk jiwa yang terluka.

Proses ini membawa pada pemahaman lebih luas tentang healing. Dari jogging pagi yang sederhana, muncul kesadaran untuk menjaga pola makan, tidur lebih teratur, dan menyisihkan waktu untuk kegiatan yang menenangkan pikiran. Semua hal ini saling terkait, membentuk arus self-love yang nyata. Pelarian kecil dari overthinking kini menjadi fondasi kehidupan yang lebih sehat, seimbang, dan bahagia.

Dari luka pasca-putus, lahirlah transformasi menyeluruh. Setiap pagi yang dimulai dengan olahraga menjadi simbol: hari ini adalah kesempatan untuk menjadi versi diri yang lebih baik, untuk “level up” dalam kehidupan. Life After Breakup bukan sekadar fase pasca-patah hati; ia menjadi momen penting untuk membangun diri, memperkuat tubuh, dan menata hati.

Kini, ketika menatap cermin, yang terlihat bukan hanya tubuh yang lebih fit, tetapi seseorang yang belajar mencintai diri sendiri, menghargai proses, dan menemukan kekuatan dalam konsistensi. Dari pelarian kecil lahirlah kekuatan besar: bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk tumbuh, untuk menghadapi dunia dengan percaya diri.

Cerita ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang sedang dalam masa sulit: jalan keluar tidak selalu berupa keputusan besar, kadang cukup langkah kecil yang konsisten—jalan pagi, napas dalam, dan waktu untuk menyembuhkan diri sendiri. Pelarian dari sakit hati bisa menjadi awal dari transformasi yang utuh. Setiap luka bisa menjadi batu loncatan untuk menjadi versi diri yang lebih kuat, sehat, dan bahagia.

Life After Breakup adalah kisah bahwa penyembuhan itu nyata. Bahwa luka bisa menjadi titik awal untuk perubahan. Bahwa self-love dan kebugaran fisik saling menguatkan. Dan yang terpenting, setiap orang memiliki kemampuan untuk “level up” dalam hidupnya sendiri, selama berani memulai langkah demi langkah, napas demi napas. Humas RSPAU

Baru Kali Ini Siswa SD Diperiksa dari Kepala hingga Jantung, Aksi Kolaborasi RSPAU dan Pemkot Jogja Tuai Pujian

Pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi anak-anak usia sekolah semakin menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya berbagai kasus gangguan kesehatan yang ditemukan pada anak-anak di Indonesia. Belakangan ini, sejumlah laporan mengungkapkan tingginya angka kelainan jantung bawaan, gangguan penglihatan, masalah gizi, serta kesehatan mental yang kurang diperhatikan sejak dini. Kasus-kasus tersebut, jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat, berpotensi menghambat tumbuh kembang dan prestasi anak di masa depan. Hal ini menjadi perhatian serius karena kesehatan anak merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi unggul yang sehat dan produktif.

Melihat kondisi tersebut, RSPAU dr. S. Hardjolukito bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta melaksanakan Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan Gratis di SDN Lempuyangwangi. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi sejak dini masalah kesehatan yang mungkin dialami oleh anak-anak, sehingga dapat segera ditangani dan mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan mereka.

Tawa riang para siswa SDN Lempuyangwangi Yogyakarta menggema di sela-sela pelaksanaan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar di lingkungan sekolah mereka. Bukan hari belajar biasa, pada hari Kamis (31/7/25) para siswa mendapat layanan istimewa dari tim medis profesional dalam rangkaian kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Kesehatan Gratis ini.

Tak kurang dari 168 siswa mendapatkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan Kesehatan THT, mata, gigi, status gizi, hingga kesehatan mental. Khusus untuk siswa kelas 1, sebanyak 84 anak juga menjalani skrining kelainan jantung bawaan, sebagai bentuk deteksi dini terhadap penyakit yang bisa memengaruhi tumbuh kembang anak jika tidak terdeteksi sejak dini. Skrining jantung ini dilakukan menggunakan teknologi elektrokardiogram (EKG) portabel, alat medis canggih yang dibawa langsung oleh tim dokter RSPAU ke lokasi pemeriksaan. Alat ini memungkinkan pengambilan data rekam jantung secara cepat dan akurat tanpa harus membawa siswa ke rumah sakit, sehingga proses skrining berjalan lebih efisien dan minim gangguan bagi anak-anak.

Lebih dari sekedar aksi sosial, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama mendukung program pemerintah di bidang kesehatan anak dan pencegahan penyakit tidak menular. Pemeriksaan dini yang menyasar usia sekolah seperti ini terbukti efektif sebagai langkah preventif dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat, unggul, dan siap menghadapi masa depan.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud pengabdian nyata TNI AU dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional.

“Melalui bakti sosial ini, kami ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat, khususnya anak-anak, yang merupakan masa depan bangsa. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam memperkuat sistem kesehatan preventif di Indonesia,” ungkapnya.

Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), yang hadir langsung dalam kegiatan ini, menyambut positif inisiatif yang diinisiasi bersama RSPAU. Beliau menekankan bahwa kegiatan ini sangat selaras dengan visi pemerintah kota dalam mewujudkan masyarakat yang sehat sejak dini.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Pemeriksaan rutin di sekolah adalah langkah nyata dalam membangun generasi yang sehat jiwa dan raganya,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Kepala Mantri Pamong Praja, Kepala SDN Lempuyangwangi, serta jajaran kepala puskesmas di wilayah kerja Kecamatan Danurejan.

Dengan antusiasme tinggi dari siswa dan dukungan penuh dari berbagai pihak, kegiatan ini menjadi contoh konkret sinergi antara institusi militer dan pemerintah daerah dalam mendukung transformasi layanan kesehatan nasional, sekaligus mengingatkan bahwa membangun bangsa dimulai dari menjaga senyum sehat anak-anak Indonesia. Humas RSPAU

 

Meski Si Manis Menggoda, Tapi Gula Darah Tetap Harus Dijaga

Manis selalu punya cara untuk membuat kita tersenyum. Sekilas, sepotong cokelat di sela kesibukan, segelas kopi hangat dengan gula tambahan, atau kue di meja rapat tampak seperti teman setia yang bisa mengusir penat. Rasanya seperti pelukan kecil untuk hati yang lelah, memberikan kenyamanan sejenak di tengah hiruk-pikuk hari. Tapi, di balik sensasi manis itu, tubuh kita diam-diam mengirim sinyal peringatan. Setiap gula yang masuk, jika tak dijaga, bisa mengintai kesehatan dan mengganggu keseimbangan tubuh kita.

Gula memang sumber energi penting bagi tubuh, tapi konsumsi berlebihan bisa menjadi “musuh tersembunyi”. Setiap kali kita menelan camilan manis, pankreas bekerja keras memproduksi insulin untuk menormalkan kadar gula. Lama-lama, kerja keras ini bisa melelahkan tubuh dan membuka jalan bagi penyakit seperti diabetes. Tantangannya, godaan itu ada di mana-mana, dari minuman manis yang selalu tersedia, kue di meja rapat, hingga perayaan keluarga dengan berbagai hidangan manis menggoda.

Tetapi menjaga gula darah tidak berarti harus menjauh sepenuhnya dari manis. Kuncinya ada pada kesadaran, kontrol porsi, dan keseimbangan. Misalnya, menyeimbangkan camilan manis dengan buah, sayur, atau makanan tinggi serat. Atau menambahkan aktivitas fisik sederhana, seperti jalan kaki sejenak setelah makan. Langkah-langkah kecil ini bisa membuat perbedaan besar dalam jangka panjang.

Memantau gula darah juga penting, bukan hanya bagi penderita diabetes. Alat ukur gula darah kini mudah digunakan di rumah, memberikan informasi yang berharga untuk menyesuaikan pola makan dan aktivitas harian. Dengan mengetahui kondisi tubuh, kita bisa lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur kebiasaan sehari-hari.

Perlu diingat, setiap orang berbeda. Toleransi tubuh terhadap gula dipengaruhi oleh genetik, usia, berat badan, dan gaya hidup. Jadi, tidak ada ukuran satu untuk semua. Yang penting adalah mengenali tubuh sendiri, membaca sinyalnya, dan membuat keputusan yang mendukung kesehatan.

Mengganti sebagian camilan manis dengan alternatif sehat seperti buah segar, kacang-kacangan, atau yogurt rendah gula, tidak membuat hidup kehilangan kenikmatan. Justru, tubuh akan lebih bersyukur, energi stabil, mood lebih baik, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan. Menjaga gula darah bukan sekadar soal menghindari penyakit, tapi tentang mencintai tubuh sendiri dan memberikan yang terbaik untuk masa depan.

Jadi, saat godaan manis datang, nikmati dengan bijak. Rasakan setiap rasa manisnya, tapi jangan lupa untuk menjaga keseimbangan. Tubuh yang sehat adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Setiap pilihan kecil hari ini adalah langkah menuju hidup lebih bugar, lebih ceria, dan lebih lama menikmati momen manis tanpa risiko. Humas RSPAU

 

Monev Data ASPAK dan TT KRIS RSPAU Konsisten Wujudkan Pelayanan Berkualitas dan Transparan

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pelayanan serta validasi data fasilitas kesehatan, RSPAU dr. S. Hardjolukito menerima kunjungan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Selasa (29/7/25). Kegiatan ini merupakan rangkaian Monev ASPAK (Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan) dan pelaporan Tempat Tidur KRIS (Ketersediaan Rumah Sakit dan Informasi Sistem) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, sebagai upaya memastikan keterpaduan data dan akurasi pelaporan yang sangat penting bagi pengelolaan pelayanan kesehatan di tingkat daerah maupun nasional.

Dalam kesempatan ini, Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito membacakan sambutan Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, yang menggarisbawahi pentingnya integritas dan akurasi dalam pengisian data ASPAK. Kepala RSPAU menegaskan bahwa data yang valid dan transparan merupakan fondasi utama dalam pengambilan kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas layanan rumah sakit.

 "Kami menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari upaya bersama dalam memastikan bahwa pelayanan di RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito senantiasa selaras dengan standar nasional, transparan dalam pelaporan, serta terintegrasi secara digital dengan sistem informasi kesehatan pemerintah," kata Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito juga menegaskan bahwa pelaporan ASPAK dan TT KRIS bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan cerminan dari akuntabilitas, kesiapan infrastruktur, serta mutu layanan yang diberikan kepada masyarakat. Dalam kerangka inilah, RSPAU menyatakan kesiapannya mendukung penuh program pemerintah terkait Klasifikasi Rumah Sakit berbasis Kompetensi dan implementasi Program KRIS yang akan diberlakukan secara nasional pada 31 Desember 2025. RSPAU berkomitmen untuk terus berbenah, agar seluruh indikator layanan dan fasilitas yang dimiliki sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Adapun Tim Monitoring dan Evaluasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang hadir dalam kegiatan tersebut terdiri atas tenaga ahli yang berkompeten di bidang pelayanan kesehatan rujukan dan administrasi data, yaitu dr. Yoseph Doni selaku Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan, Nelly Syukriani Z, S.Tr.Keb., Bdn. sebagai Penelaah Teknis Kebijakan Pelayanan Kesehatan Rujukan, Sausan Iriana, SKM dan Afita Mega, S.Tr.Keb. sebagai Analis Administrasi Pelayanan Kesehatan Rujukan, serta Krisnawan P., Amd.Kep. dan Upik Rahmi, Amd.Kep. yang bertugas sebagai pengelola data pelayanan kesehatan rujukan.

Selama pelaksanaan kegiatan, tim dari Dinkes melakukan verifikasi dan validasi menyeluruh terhadap data ASPAK dan pelaporan tempat tidur KRIS yang telah diinput oleh RSPAU pada aplikasi RS Online. Verifikasi ini meliputi pengecekan ketersediaan sarana, prasarana, alat kesehatan, serta kondisi riil jumlah dan jenis tempat tidur yang tersedia untuk pasien rawat inap. Tim Monev juga meninjau proses penginputan data agar sesuai dengan prosedur yang berlaku dan memberikan rekomendasi perbaikan untuk optimalisasi pengelolaan data. Hal ini penting agar sistem pelaporan menjadi lebih efisien, akurat, dan mudah diakses oleh berbagai pihak terkait secara real-time.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi evaluasi satu arah, melainkan juga sebagai forum koordinasi dan komunikasi dua arah antara RSPAU dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. Dengan demikian, rumah sakit dapat menerima masukan konstruktif untuk terus menyempurnakan sistem pelayanan dan pelaporan, sementara Dinkes dapat memperoleh gambaran kondisi aktual fasilitas kesehatan di lapangan. Dengan data yang valid dan terverifikasi, RSPAU mampu mengantisipasi kebutuhan pasien secara tepat serta merancang pengembangan fasilitas dan layanan sesuai standar nasional dan kebutuhan masyarakat.

Dengan adanya penguatan manajemen data dan pengawasan, RSPAU dr. S. Hardjolukito optimis mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan yang handal dan terpercaya di wilayah DIY dan sekitarnya. Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan derajat kesehatan masyarakat akan terus meningkat, sejalan dengan visi dan misi RSPAU untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Humas RSPAU

 

Tak Lupa Sejarah, Tak Henti Mengabdi: RSPAU di Pusara Para Pejuang Dirgantara

Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pahlawan perintis TNI AU, Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito didampingi Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU dr. S. Hardjolukito beserta pengurus dan para pejabat RSPAU turut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ziarah di Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto, Bantul, Senin (28/7/25).

Ziarah yang dipimpin oleh Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), Marsda TNI Dr. Ir. Purwoko Aji Prabowo, M.M., MDS., berlangsung khidmat. Upacara dimulai dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, dilanjutkan doa dan tabur bunga di pusara Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto serta Marsekal Muda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dua tokoh penting dalam sejarah perjuangan TNI AU.

Partisipasi RSPAU dalam kegiatan ini tidak semata menjalankan tradisi, melainkan bentuk penghargaan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan, dedikasi, dan pengabdian yang telah diwariskan oleh para pahlawan dirgantara. Bagi RSPAU, ziarah ini juga menjadi refleksi dan pengingat bahwa semangat pengorbanan para pendahulu harus terus dihidupkan dalam pelayanan nyata kepada bangsa dan negara, terutama dalam bidang kesehatan.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp,JP.,  menyampaikan bahwa semangat Hari Bakti harus menjadi inspirasi bagi seluruh insan RSPAU untuk terus bertransformasi, berinovasi, dan memberikan layanan kesehatan terbaik, khususnya bagi prajurit TNI AU, keluarganya, serta masyarakat umum.

Sebagai rumah sakit pusat TNI AU, RSPAU dr. S. Hardjolukito memegang tanggung jawab besar dalam menjaga amanah perjuangan para pahlawan. Melalui kegiatan ziarah ini, RSPAU menegaskan komitmennya untuk terus mengabdi dengan hati, menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan, serta menjadi bagian dari kekuatan pertahanan kesehatan nasional yang tangguh dan berdaya saing. Humas RSPAU

Penyakit yang Bisa Bunuh Masa Depan Anak, Padahal Mudah Dicegah

Di balik tawa ceria anak-anak, tersembunyi risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua. Beberapa penyakit, jika tidak dicegah sejak dini, bisa menghambat pertumbuhan, perkembangan, bahkan merusak masa depan anak. Ironisnya, banyak dari penyakit tersebut sebenarnya mudah dicegah dengan langkah sederhana yang tersedia bagi setiap keluarga.

Salah satu ancaman klasik adalah penyakit menular yang kini bisa diatasi dengan vaksin. Campak, polio, dan difteri adalah contoh nyata. Campak bukan sekadar ruam atau demam ringan; komplikasinya bisa parah, mulai dari pneumonia hingga kerusakan otak. Polio, yang menyebabkan kelumpuhan permanen, pernah menjadi momok di banyak negara, namun nyatanya dapat dicegah dengan imunisasi rutin. Difteri, meski jarang terdengar akhir-akhir ini, tetap menimbulkan risiko serius pada saluran pernapasan dan jantung. Kesemuanya bisa diantisipasi melalui program vaksinasi yang tepat waktu.

Sayangnya, kurangnya kesadaran dan mitos seputar vaksin membuat sebagian orang tua menunda atau menolak imunisasi. Padahal, satu vaksin saja bisa menyelamatkan anak dari penderitaan seumur hidup. Ahli kesehatan menekankan pentingnya edukasi masyarakat: “Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Anak yang terlindungi dari penyakit sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat dan produktif,” ujar seorang dokter anak.

Tidak hanya penyakit menular, gaya hidup modern juga menghadirkan ancaman baru bagi anak-anak. Obesitas anak, misalnya, meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Anak yang mengalami kelebihan berat badan berisiko mengidap diabetes tipe 2, hipertensi, hingga gangguan jantung sejak dini. Sementara pola makan tinggi gula dan minim aktivitas fisik dianggap sepele, dampaknya bisa mengancam kualitas hidup anak di masa depan. Penanganan dini melalui pola makan sehat, olahraga rutin, dan pengawasan berat badan dapat mengubah arah kehidupan anak secara signifikan.

Selain itu, penyakit seperti anemia defisiensi zat besi dan kekurangan vitamin D juga sering tidak disadari. Anemia pada anak bisa menyebabkan kelelahan, menurunkan konsentrasi belajar, bahkan menghambat pertumbuhan otak. Kekurangan vitamin D dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan sistem kekebalan tubuh. Padahal, kedua kondisi ini dapat dicegah dengan asupan gizi seimbang dan paparan sinar matahari yang cukup.

Kesadaran orang tua menjadi faktor kunci. Pemeriksaan rutin, imunisasi lengkap, dan edukasi gizi bukan sekadar formalitas, melainkan investasi nyata untuk masa depan anak. Mencegah lebih mudah, lebih murah, dan tentu lebih aman dibandingkan mengobati penyakit yang sudah berkembang. Hal sederhana seperti memantau jadwal imunisasi, mengatur menu makanan bergizi, serta memastikan anak aktif bergerak setiap hari, mampu menjadi perisai yang melindungi anak dari risiko penyakit berbahaya.

Selain peran keluarga, lingkungan dan sekolah juga memegang peranan penting. Pendidikan kesehatan di sekolah, penyediaan makanan bergizi, hingga program olahraga rutin dapat membantu anak membangun kebiasaan sehat sejak dini. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan akan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan anak optimal.

Tidak kalah penting, anak-anak juga perlu diajarkan untuk mengenali tubuh mereka sendiri. Ajarkan mereka kebiasaan cuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta menyampaikan keluhan kesehatan kepada orang tua atau guru. Kesadaran diri sejak dini membekali anak dengan keterampilan hidup yang krusial: melindungi diri dari penyakit, memahami pentingnya pola hidup sehat, dan membangun ketahanan tubuh untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa depan.

Masa depan anak bukan hanya tentang pendidikan atau kesempatan, tetapi juga kesehatan. Penyakit yang bisa dihindari seharusnya tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Orang tua, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak terlindungi. Langkah-langkah sederhana—vaksinasi lengkap, pola makan seimbang, olahraga rutin, serta pemeriksaan kesehatan berkala—bisa menjadi perisai kuat yang menjamin masa depan anak tetap cerah.

Dalam dunia kesehatan, waktu adalah faktor krusial. Semakin cepat pencegahan dilakukan, semakin besar peluang anak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. Jangan tunggu gejala muncul. Investasi kesehatan sejak dini adalah bentuk cinta paling nyata bagi masa depan anak. Sebab, anak yang sehat hari ini adalah generasi yang siap menghadapi tantangan besok.

 

Dirgahayu Akademi Angkatan Udara ke-60

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dan Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU, beserta seluruh Civitas Hospitalia RSPAU, mengucapkan :

"Dirgahayu Akademi Angkatan Udara ke-60"
26 Juli 1965 – 26 Juli 2025

"VIDYA KARMA VIRA PAKCA"