Daftar Berita

Meski Si Manis Menggoda, Tapi Gula Darah Tetap Harus Dijaga

Manis selalu punya cara untuk membuat kita tersenyum. Sekilas, sepotong cokelat di sela kesibukan, segelas kopi hangat dengan gula tambahan, atau kue di meja rapat tampak seperti teman setia yang bisa mengusir penat. Rasanya seperti pelukan kecil untuk hati yang lelah, memberikan kenyamanan sejenak di tengah hiruk-pikuk hari. Tapi, di balik sensasi manis itu, tubuh kita diam-diam mengirim sinyal peringatan. Setiap gula yang masuk, jika tak dijaga, bisa mengintai kesehatan dan mengganggu keseimbangan tubuh kita.

Gula memang sumber energi penting bagi tubuh, tapi konsumsi berlebihan bisa menjadi “musuh tersembunyi”. Setiap kali kita menelan camilan manis, pankreas bekerja keras memproduksi insulin untuk menormalkan kadar gula. Lama-lama, kerja keras ini bisa melelahkan tubuh dan membuka jalan bagi penyakit seperti diabetes. Tantangannya, godaan itu ada di mana-mana, dari minuman manis yang selalu tersedia, kue di meja rapat, hingga perayaan keluarga dengan berbagai hidangan manis menggoda.

Tetapi menjaga gula darah tidak berarti harus menjauh sepenuhnya dari manis. Kuncinya ada pada kesadaran, kontrol porsi, dan keseimbangan. Misalnya, menyeimbangkan camilan manis dengan buah, sayur, atau makanan tinggi serat. Atau menambahkan aktivitas fisik sederhana, seperti jalan kaki sejenak setelah makan. Langkah-langkah kecil ini bisa membuat perbedaan besar dalam jangka panjang.

Memantau gula darah juga penting, bukan hanya bagi penderita diabetes. Alat ukur gula darah kini mudah digunakan di rumah, memberikan informasi yang berharga untuk menyesuaikan pola makan dan aktivitas harian. Dengan mengetahui kondisi tubuh, kita bisa lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur kebiasaan sehari-hari.

Perlu diingat, setiap orang berbeda. Toleransi tubuh terhadap gula dipengaruhi oleh genetik, usia, berat badan, dan gaya hidup. Jadi, tidak ada ukuran satu untuk semua. Yang penting adalah mengenali tubuh sendiri, membaca sinyalnya, dan membuat keputusan yang mendukung kesehatan.

Mengganti sebagian camilan manis dengan alternatif sehat seperti buah segar, kacang-kacangan, atau yogurt rendah gula, tidak membuat hidup kehilangan kenikmatan. Justru, tubuh akan lebih bersyukur, energi stabil, mood lebih baik, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan. Menjaga gula darah bukan sekadar soal menghindari penyakit, tapi tentang mencintai tubuh sendiri dan memberikan yang terbaik untuk masa depan.

Jadi, saat godaan manis datang, nikmati dengan bijak. Rasakan setiap rasa manisnya, tapi jangan lupa untuk menjaga keseimbangan. Tubuh yang sehat adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Setiap pilihan kecil hari ini adalah langkah menuju hidup lebih bugar, lebih ceria, dan lebih lama menikmati momen manis tanpa risiko. Humas RSPAU

 

Monev Data ASPAK dan TT KRIS RSPAU Konsisten Wujudkan Pelayanan Berkualitas dan Transparan

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pelayanan serta validasi data fasilitas kesehatan, RSPAU dr. S. Hardjolukito menerima kunjungan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Selasa (29/7/25). Kegiatan ini merupakan rangkaian Monev ASPAK (Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan) dan pelaporan Tempat Tidur KRIS (Ketersediaan Rumah Sakit dan Informasi Sistem) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, sebagai upaya memastikan keterpaduan data dan akurasi pelaporan yang sangat penting bagi pengelolaan pelayanan kesehatan di tingkat daerah maupun nasional.

Dalam kesempatan ini, Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito membacakan sambutan Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, yang menggarisbawahi pentingnya integritas dan akurasi dalam pengisian data ASPAK. Kepala RSPAU menegaskan bahwa data yang valid dan transparan merupakan fondasi utama dalam pengambilan kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas layanan rumah sakit.

 "Kami menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari upaya bersama dalam memastikan bahwa pelayanan di RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito senantiasa selaras dengan standar nasional, transparan dalam pelaporan, serta terintegrasi secara digital dengan sistem informasi kesehatan pemerintah," kata Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito juga menegaskan bahwa pelaporan ASPAK dan TT KRIS bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan cerminan dari akuntabilitas, kesiapan infrastruktur, serta mutu layanan yang diberikan kepada masyarakat. Dalam kerangka inilah, RSPAU menyatakan kesiapannya mendukung penuh program pemerintah terkait Klasifikasi Rumah Sakit berbasis Kompetensi dan implementasi Program KRIS yang akan diberlakukan secara nasional pada 31 Desember 2025. RSPAU berkomitmen untuk terus berbenah, agar seluruh indikator layanan dan fasilitas yang dimiliki sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Adapun Tim Monitoring dan Evaluasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang hadir dalam kegiatan tersebut terdiri atas tenaga ahli yang berkompeten di bidang pelayanan kesehatan rujukan dan administrasi data, yaitu dr. Yoseph Doni selaku Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan, Nelly Syukriani Z, S.Tr.Keb., Bdn. sebagai Penelaah Teknis Kebijakan Pelayanan Kesehatan Rujukan, Sausan Iriana, SKM dan Afita Mega, S.Tr.Keb. sebagai Analis Administrasi Pelayanan Kesehatan Rujukan, serta Krisnawan P., Amd.Kep. dan Upik Rahmi, Amd.Kep. yang bertugas sebagai pengelola data pelayanan kesehatan rujukan.

Selama pelaksanaan kegiatan, tim dari Dinkes melakukan verifikasi dan validasi menyeluruh terhadap data ASPAK dan pelaporan tempat tidur KRIS yang telah diinput oleh RSPAU pada aplikasi RS Online. Verifikasi ini meliputi pengecekan ketersediaan sarana, prasarana, alat kesehatan, serta kondisi riil jumlah dan jenis tempat tidur yang tersedia untuk pasien rawat inap. Tim Monev juga meninjau proses penginputan data agar sesuai dengan prosedur yang berlaku dan memberikan rekomendasi perbaikan untuk optimalisasi pengelolaan data. Hal ini penting agar sistem pelaporan menjadi lebih efisien, akurat, dan mudah diakses oleh berbagai pihak terkait secara real-time.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi evaluasi satu arah, melainkan juga sebagai forum koordinasi dan komunikasi dua arah antara RSPAU dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. Dengan demikian, rumah sakit dapat menerima masukan konstruktif untuk terus menyempurnakan sistem pelayanan dan pelaporan, sementara Dinkes dapat memperoleh gambaran kondisi aktual fasilitas kesehatan di lapangan. Dengan data yang valid dan terverifikasi, RSPAU mampu mengantisipasi kebutuhan pasien secara tepat serta merancang pengembangan fasilitas dan layanan sesuai standar nasional dan kebutuhan masyarakat.

Dengan adanya penguatan manajemen data dan pengawasan, RSPAU dr. S. Hardjolukito optimis mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan yang handal dan terpercaya di wilayah DIY dan sekitarnya. Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan derajat kesehatan masyarakat akan terus meningkat, sejalan dengan visi dan misi RSPAU untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Humas RSPAU

 

Tak Lupa Sejarah, Tak Henti Mengabdi: RSPAU di Pusara Para Pejuang Dirgantara

Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa para pahlawan perintis TNI AU, Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito didampingi Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU dr. S. Hardjolukito beserta pengurus dan para pejabat RSPAU turut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ziarah di Monumen Perjuangan TNI AU Ngoto, Bantul, Senin (28/7/25).

Ziarah yang dipimpin oleh Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), Marsda TNI Dr. Ir. Purwoko Aji Prabowo, M.M., MDS., berlangsung khidmat. Upacara dimulai dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, dilanjutkan doa dan tabur bunga di pusara Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto serta Marsekal Muda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dua tokoh penting dalam sejarah perjuangan TNI AU.

Partisipasi RSPAU dalam kegiatan ini tidak semata menjalankan tradisi, melainkan bentuk penghargaan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan, dedikasi, dan pengabdian yang telah diwariskan oleh para pahlawan dirgantara. Bagi RSPAU, ziarah ini juga menjadi refleksi dan pengingat bahwa semangat pengorbanan para pendahulu harus terus dihidupkan dalam pelayanan nyata kepada bangsa dan negara, terutama dalam bidang kesehatan.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp,JP.,  menyampaikan bahwa semangat Hari Bakti harus menjadi inspirasi bagi seluruh insan RSPAU untuk terus bertransformasi, berinovasi, dan memberikan layanan kesehatan terbaik, khususnya bagi prajurit TNI AU, keluarganya, serta masyarakat umum.

Sebagai rumah sakit pusat TNI AU, RSPAU dr. S. Hardjolukito memegang tanggung jawab besar dalam menjaga amanah perjuangan para pahlawan. Melalui kegiatan ziarah ini, RSPAU menegaskan komitmennya untuk terus mengabdi dengan hati, menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan, serta menjadi bagian dari kekuatan pertahanan kesehatan nasional yang tangguh dan berdaya saing. Humas RSPAU

Penyakit yang Bisa Bunuh Masa Depan Anak, Padahal Mudah Dicegah

Di balik tawa ceria anak-anak, tersembunyi risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua. Beberapa penyakit, jika tidak dicegah sejak dini, bisa menghambat pertumbuhan, perkembangan, bahkan merusak masa depan anak. Ironisnya, banyak dari penyakit tersebut sebenarnya mudah dicegah dengan langkah sederhana yang tersedia bagi setiap keluarga.

Salah satu ancaman klasik adalah penyakit menular yang kini bisa diatasi dengan vaksin. Campak, polio, dan difteri adalah contoh nyata. Campak bukan sekadar ruam atau demam ringan; komplikasinya bisa parah, mulai dari pneumonia hingga kerusakan otak. Polio, yang menyebabkan kelumpuhan permanen, pernah menjadi momok di banyak negara, namun nyatanya dapat dicegah dengan imunisasi rutin. Difteri, meski jarang terdengar akhir-akhir ini, tetap menimbulkan risiko serius pada saluran pernapasan dan jantung. Kesemuanya bisa diantisipasi melalui program vaksinasi yang tepat waktu.

Sayangnya, kurangnya kesadaran dan mitos seputar vaksin membuat sebagian orang tua menunda atau menolak imunisasi. Padahal, satu vaksin saja bisa menyelamatkan anak dari penderitaan seumur hidup. Ahli kesehatan menekankan pentingnya edukasi masyarakat: “Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Anak yang terlindungi dari penyakit sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat dan produktif,” ujar seorang dokter anak.

Tidak hanya penyakit menular, gaya hidup modern juga menghadirkan ancaman baru bagi anak-anak. Obesitas anak, misalnya, meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Anak yang mengalami kelebihan berat badan berisiko mengidap diabetes tipe 2, hipertensi, hingga gangguan jantung sejak dini. Sementara pola makan tinggi gula dan minim aktivitas fisik dianggap sepele, dampaknya bisa mengancam kualitas hidup anak di masa depan. Penanganan dini melalui pola makan sehat, olahraga rutin, dan pengawasan berat badan dapat mengubah arah kehidupan anak secara signifikan.

Selain itu, penyakit seperti anemia defisiensi zat besi dan kekurangan vitamin D juga sering tidak disadari. Anemia pada anak bisa menyebabkan kelelahan, menurunkan konsentrasi belajar, bahkan menghambat pertumbuhan otak. Kekurangan vitamin D dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan sistem kekebalan tubuh. Padahal, kedua kondisi ini dapat dicegah dengan asupan gizi seimbang dan paparan sinar matahari yang cukup.

Kesadaran orang tua menjadi faktor kunci. Pemeriksaan rutin, imunisasi lengkap, dan edukasi gizi bukan sekadar formalitas, melainkan investasi nyata untuk masa depan anak. Mencegah lebih mudah, lebih murah, dan tentu lebih aman dibandingkan mengobati penyakit yang sudah berkembang. Hal sederhana seperti memantau jadwal imunisasi, mengatur menu makanan bergizi, serta memastikan anak aktif bergerak setiap hari, mampu menjadi perisai yang melindungi anak dari risiko penyakit berbahaya.

Selain peran keluarga, lingkungan dan sekolah juga memegang peranan penting. Pendidikan kesehatan di sekolah, penyediaan makanan bergizi, hingga program olahraga rutin dapat membantu anak membangun kebiasaan sehat sejak dini. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan akan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan anak optimal.

Tidak kalah penting, anak-anak juga perlu diajarkan untuk mengenali tubuh mereka sendiri. Ajarkan mereka kebiasaan cuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta menyampaikan keluhan kesehatan kepada orang tua atau guru. Kesadaran diri sejak dini membekali anak dengan keterampilan hidup yang krusial: melindungi diri dari penyakit, memahami pentingnya pola hidup sehat, dan membangun ketahanan tubuh untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan di masa depan.

Masa depan anak bukan hanya tentang pendidikan atau kesempatan, tetapi juga kesehatan. Penyakit yang bisa dihindari seharusnya tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Orang tua, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak terlindungi. Langkah-langkah sederhana—vaksinasi lengkap, pola makan seimbang, olahraga rutin, serta pemeriksaan kesehatan berkala—bisa menjadi perisai kuat yang menjamin masa depan anak tetap cerah.

Dalam dunia kesehatan, waktu adalah faktor krusial. Semakin cepat pencegahan dilakukan, semakin besar peluang anak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. Jangan tunggu gejala muncul. Investasi kesehatan sejak dini adalah bentuk cinta paling nyata bagi masa depan anak. Sebab, anak yang sehat hari ini adalah generasi yang siap menghadapi tantangan besok.

 

Dirgahayu Akademi Angkatan Udara ke-60

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito dan Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU, beserta seluruh Civitas Hospitalia RSPAU, mengucapkan :

"Dirgahayu Akademi Angkatan Udara ke-60"
26 Juli 1965 – 26 Juli 2025

"VIDYA KARMA VIRA PAKCA"

RSPAU Selamatkan puluhan nyawa di BPBD DIY

Penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 oleh Kemenkes, prevalensi penyakit jantung nasional mencapai 0,85% dari total penduduk. Hingga Juni 2024, tercatat sekitar 1,84 juta pasien jantung mengunjungi fasilitas primer seperti puskesmas dan klinik.

Tingginya angka penderita jantung tersebut menjadi peringatan bahwa setiap orang, terutama instansi yang bersentuhan langsung dengan kondisi darurat  dalam melakukan pertolongan pertama yang tepat sangatlah krusial. Menjawab kebutuhan tersebut, RSPAU dr. S. Hardjolukito menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi para pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta, bertempat di kantor BPBD DIY Jumat (25/07/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergitas antarinstansi dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kedaruratan medis di lapangan. Melalui kolaborasi ini, baik sektor kesehatan maupun kebencanaan menunjukkan komitmen bersama untuk meningkatkan kapasitas personel dalam menyelamatkan nyawa di situasi kritis.

Pelatihan ini juga menitikberatkan pada kesiapsiagaan serta peningkatan kompetensi para pegawai BPBD DIY, terutama mereka yang bertugas di lapangan sebagai ujung tombak penyelamatan pertama saat terjadi bencana. Mulai dari korban tenggelam, hanyut terseret arus, korban tanah longsor dan lain sebagainya. semuanya membutuhkan respon cepat dan pertolongan dasar yang tepat.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kabiddukes RSPAU dr. S.Hardjolukito Kolonel Kes dr. Ketut Sutaendy, Sp. An-KICdidampingi Ketua Tim BHD RSPAU, Letkol Kes dr. Luhur Pribadi, Sp.JP , beserta Tim. Acara diawali dengan pemaparan materi seputar teori dasar BHD. Para peserta kemudian mengikuti sesi praktik langsung mengenai  teknik dasar resusitasi jantung paru.

Para peserta pelatihan tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, Dengan semangat kolaborasi antara RSPAU dr. S. Hardjolukito dan BPBD DIY, pelatihan ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak individu yang sigap dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat . Sebuah langkah nyata menyelamatkan nyawa sejak detik pertama. Humas RSPAU.

 

RSPAU Bongkar Formula Rahasia untuk Atasi Gizi Buruk Anak

Di balik penurunan angka prevalensi stunting secara nasional, masih tersembunyi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini yakni menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan unggul. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI menunjukkan penurunan angka stunting dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Namun demikian, prevalensi wasting (gizi buruk dan gizi kurang) masih berada di angka 9,2%, yang menunjukkan bahwa tantangan gizi di Indonesia belum usai. Sebab setiap angka bukan sekadar statistik, tetapi masa depan seorang anak.

Berangkat dari kesadaran mendalam akan pentingnya intervensi yang tepat dan terarah terhadap masalah wasting, RSPAU dr. S. Hardjolukito menyelenggarakan Webinar Nasional bertema “Terapi Gizi pada Anak Gizi Buruk dan Cara Pembuatan Formula Nutrisi Medis”, Rabu (23/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional serta bentuk nyata kontribusi RSPAU dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting dan wasting melalui pendekatan ilmiah, aplikatif, dan kontekstual bagi para tenaga kesehatan.

Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP., dalam sambutannya menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan kontekstual dalam penanganan masalah gizi di Indonesia.

“Webinar ini bukan hanya forum ilmiah, tetapi juga bentuk nyata kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak Indonesia,” tegas Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP.

Webinar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube ini berhasil menjaring ratusan peserta dari seluruh Indonesia, yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, nutrisionis, dan dietisien. Dalam kegiatan ini, RSPAU menghadirkan tiga narasumber berpengalaman. Letkol Kes Tri Harsono, S.TP., S.Gz., M.Gz., RD membawakan materi berjudul “Pemberian Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) pada Balita dengan Gizi Buruk”.

Selanjutnya, dr. Citra Tarannita, Sp.A., M.Biomed. menyampaikan materi “Deteksi Dini dan Tatalaksana Gizi Buruk pada Balita”. Sementara itu, Supri Astuti, A.Md.Gz., memaparkan materi “Prosedur Pembuatan Resomal, F75, dan F100”.
Ketiga narasumber tersebut secara komprehensif membahas teori, pendekatan klinis, hingga praktik pembuatan formula gizi khusus bagi anak-anak dengan kondisi malnutrisi berat, guna meningkatkan kapasitas para tenaga kesehatan dalam memberikan layanan yang tepat sasaran dan sesuai standar WHO.

Menariknya, secara paralel, RSPAU juga menggelar workshop pemberdayaan kader melalui pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita. Dalam kegiatan ini, kader Posyandu Lanud Adisutjipto dilatih membuat PMT berbasis bahan alternatif selain beras, seperti gandum dan bahan pangan lokal lainnya, sebagai upaya mendukung diversifikasi pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras yang saat ini masih di atas 90 kg/kapita/tahun.“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya berkontribusi pada perbaikan gizi anak, tetapi juga mendorong kemandirian dan ketahanan pangan bangsa,” tambah Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP.
Dengan semangat transformasi dan inovasi untuk melayani yang terbaik, RSPAU terus menunjukkan komitmennya tidak hanya sebagai rumah sakit rujukan nasional dalam layanan kuratif, tetapi juga sebagai pelopor promosi kesehatan dan edukasi masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dan memberdayakan masyarakat dalam memutus rantai stunting dan wasting, demi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh. Humas RSPAU

Ka RSPAU Blak-blakan di TV Swasta Jogja, Bongkar Rahasia Transformasi Rumah Sakit Militer

Sosok di balik kemudi transformasi dan inovasi RSPAU dr. S. Hardjolukito hadir dalam tayangan inspiratif "Live Talkshow Obrolan Pagi" di RBTV, Rabu, (23/7/25). Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP, membagikan kisah hidup, nilai-nilai kepemimpinan, serta semangat pengabdiannya dalam acara yang bertajuk “Cerita di Balik Jas Putih Sang Pemimpin”.

Dalam talkshow berdurasi satu jam tersebut, Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menyampaikan bagaimana perjalanan kariernya dari seorang dokter muda hingga dipercaya memimpin Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Udara. Dibalut gaya santai namun penuh hangat dan penuh keakraban, beliau mengungkap filosofi kepemimpinan yang ia pegang teguh: “memimpin bukan sekadar memberi perintah, tapi memberi teladan dan harapan.”

Acara yang ditayangkan secara langsung di RBTV 'Asli Jogja' ini berhasil mengangkat sisi humanis dari tentara yang berhasil memimpin rumah sakit militer. Tak hanya berbicara tentang manajemen dan visi besar RSPAU, Marsma TNI dr. Margono S, Sp.JP., juga menyinggung pentingnya pelayanan kesehatan yang tidak hanya cepat dan cermat, namun juga humanis, penuh empati.

“Setiap layanan di RSPAU harus mengedepankan nilai humanis, berempati dan penuh kasih sayang. cepat dan tepat memang penting, tapi pelayanan yang menyentuh hati jauh lebih bermakna,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ka RSPAU dr. S. hardjolukito juga menyampaikan bahwa RSPAU terus berkomitmen mendukung program-program pemerintah terutama dalam bidang Kesehatan dan Ketahanan Pangan.
Dalam rangka Harbak TNI AU ke 78..RSPAU berperan serta mendukung program-progran pemerintah, dengan melaksanakan bakti sosial, antara lain: mulai dari pengiriman bantuan air bersih sebagai bentuk dari membantu ketahanan air di masyarakat. Kemudian sejalan dengan program pemerintah untuk mengatasi stunting ada pemeriksaan status gizi anak usia sekolah dan penyuluhan kesehatan tentang makanan gizi tambahan, pemeriksaan mata, THT , gigi, dan deteksi dini gangguan jantung kongenital anak sekolah.

Tak Ada Air di Gunung Kidul , RSPAU Langsung Kirim Ribuan Liter Air Selamatkan Ketahanan Kesehatan dan Pangan Warga

Ketersediaan air merupakan salah satu fondasi utama bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Menurut Dewan Sumber Daya Air Nasional, ketersediaan air yang merata, aman, dan berkelanjutan bukan hanya mendukung kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi prasyarat penting dalam pembangunan nasional. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, akses terhadap air bersih kini menjadi isu strategis lintas sektor, termasuk pertanian, kesehatan, dan ketahanan nasional.

Sebagai bagian dari kontribusi aktif TNI Angkatan Udara dalam mendukung program prioritas pemerintah di bidang ketahanan pangan dan air, RSPAU dr. S Hardjolukito melaksanakan kegiatan pemberian bantuan air bersih kepada masyarakat di wilayah rawan kekeringan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-78, yang menjadi momentum reflektif bagi jajaran TNI AU untuk memperkuat peran sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Bantuan disalurkan pada hari Selasa (22/7/25) kepada warga Dusun Dondong, Kelurahan Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, sebuah daerah yang setiap tahunnya menghadapi tantangan serius dalam ketersediaan air bersih, terutama saat musim kemarau.

Sebanyak 100.000 liter liter air bersih didistribusikan langsung ke rumah-rumah warga menggunakan armada tangki, dengan melibatkan personel dari RSPAU dan kolaborasi masyarakat setempat. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga, yang menyatakan bahwa bantuan tersebut sangat berarti untuk menunjang kebutuhan dasar mereka, termasuk memasak, mandi, mencuci, dan terutama untuk menjaga kesehatan anak-anak dan lansia.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S, Sp.JP., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari peran rumah sakit militer dalam mendukung kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
"Kami meyakini bahwa kesehatan tidak hanya berbicara tentang penanganan penyakit, tetapi juga tentang memastikan ketersediaan sumber daya dasar seperti air bersih. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya membantu masyarakat menghadapi krisis air, tetapi juga secara tidak langsung memperkuat fondasi ketahanan pangan, karena air adalah elemen vital dalam rantai produksi pangan rumah tangga dan pertanian kecil," jelasnya.

Lebih jauh, bantuan air bersih ini merupakan bentuk dukungan RSPAU terhadap program prioritas nasional, terutama Gerakan Nasional Ketahanan Pangan, yang menempatkan akses air sebagai salah satu indikator keberhasilannya. Di daerah seperti Gunungkidul, di mana pertanian lahan kering masih menjadi andalan masyarakat, keberadaan air bersih tidak hanya menyelamatkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjaga produktivitas lahan dan ketahanan ekonomi lokal.
Turut hadir pada kegiatan ini Ka RSPAU dr. S. Hardjolukito, Waka RSPAU dr. S. Hardjolukito, para pejabat di jajaran RSPAU, Ketua PIA Ardhya Garini Anak Ranting 001-05-3 RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito beserta pengurus, Panewu Saptosari, Kapolsek Saptosari, Danposmil Saptosari dan Kepala Desa Jetis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sosial kemanusiaan RSPAU dalam memperingati Hari Bakti TNI AU ke-78, yang setiap tahunnya membawa pesan pengabdian dan sinergi TNI dengan masyarakat. Melalui semangat bakti dan kepedulian lintas sektoral, RSPAU berkomitmen untuk terus hadir dalam menjawab kebutuhan mendesak masyarakat serta mendorong terciptanya Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya. Humas RSPAU

Aku Tau Resikonya, Tapi Aku Tetap Mencintainya_ Believe : Takdir, Mimpi , Keberanian

Suasana XXI Ambarukmo Plaza beberapa hari terakhir berbeda dari biasanya. Ratusan personel RSPAU dr. S. Hardjolukito beserta keluarga hadir memenuhi studio dalam kegiatan nonton bareng film pre rilis " Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian", yang digelar secara bertahap mulai tanggal 20-23 Juli 2025 agar tidak mengganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ini bukan sekadar kegiatan menonton, melainkan ruang bersama untuk berhenti sejenak dari rutinitas, mengisi ulang semangat, dan merayakan nilai-nilai perjuangan yang juga hidup dalam diri para tenaga kesehatan.

Film yang dirilis pada 24 Juli 2025 ini menggambarkan kisah emosional Agus, putra seorang prajurit veteran, yang menempuh perjalanan hidup penuh liku dari remaja yang kehilangan arah menjadi prajurit tangguh. Dibalik ketegangan dan aksi militer dalam latar Operasi Seroja di Timor Timur, film ini menyoroti bagaimana kehilangan, cinta, dan pengabdian membentuk karakter seorang pemuda. Saat dialog penuh makna muncul di layer "Aku tahu risikonya, tapi aku tetap mencintainya" banyak penonton terdiam dalam keharuan. Sebuah refleksi tentang keberanian mencintai profesi, keluarga, dan tanah air, meski dengan segala risikonya.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI Margono Gatot S, Sp.JP., menyampaikan bahwa acara ini bukan hanya tentang hiburan, melainkan penguatan nilai.

“Kami menonton bukan untuk melihat aksi perang, tapi untuk menangkap semangat yang sama yaitu pengorbanan tanpa pamrih, komitmen yang tulus, dan keberanian menghadapi ketidakpastian,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, keluarga besar RSPAU tidak hanya diajak untuk menonton film, tetapi juga untuk kembali merefleksikan perjuangan mereka sendiri sebagai garda depan dalam menjaga kesehatan dan harapan masyarakat.
Dan seperti Agus dalam film ini, seluruh personel RSPAU pun sedang menapaki medan perjuangannya masing-masing. Di balik seragam, di balik jas dokter, di balik meja administrasi, ada semangat yang sama yakni semangat untuk percaya, untuk bertahan, dan untuk terus melayani dengan hati. Karena pada akhirnya, percaya adalah keberanian untuk tetap berdiri, bahkan ketika segalanya terasa berat. Believe. Karena semua pun percaya, bahwa setiap langkah kecil hari ini akan menjadi bagian dari cerita besar bangsa esok hari. Humas RSPAU



PJB Ancam Jutaan Bayi di Dunia, RSPAU Gerak Cepat Lindungi Generasi Emas

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan struktural pada jantung yang sudah ada sejak lahir, dan menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi dan anak di seluruh dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1?yi yang lahir setiap tahunnya mengalami PJB, yang berarti lebih dari 1 juta bayi di dunia terkena kondisi ini setiap tahun. Sayangnya, sebagian besar kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga berisiko menimbulkan komplikasi serius di kemudian hari.

Di Indonesia, angka kejadian penyakit jantung bawaan juga masih cukup tinggi, diperkirakan mencapai 8 dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Ironisnya, banyak di antaranya yang tidak diketahui atau tidak tertangani secara memadai karena keterbatasan akses terhadap fasilitas pemeriksaan jantung anak, terutama di wilayah-wilayah pinggiran atau sekolah-sekolah dasar. Kondisi ini mendorong perlunya inisiatif aktif dari berbagai pihak untuk melakukan skrining secara masif dan terarah.

Menindaklanjuti perintah Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) untuk terus mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, serta dalam rangka memperingati Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-78, RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan kegiatan pemeriksaan skrining penyakit jantung bawaan (PJB) dan pemeriksaan kesehatan umum bagi anak-anak usia sekolah. Kegiatan ini menyasar siswa-siswi SDN 1 Adisutjipto dan SDN 2 Adisutjipto pada Jumat (18/7/25), sebagai bagian dari rangkaian bakti sosial.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan nyata RSPAU terhadap salah satu program prioritas pemerintah, yakni pelayanan kesehatan gratis bagi Masyarakat, terutama untuk anak-anak sebagai kelompok rentan yang harus dijaga sejak dini. Dengan menghadirkan layanan kesehatan langsung ke sekolah-sekolah, RSPAU menunjukkan kontribusi aktif dalam pencapaian target nasional peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan anak.

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh oleh tim medis RSPAU yang membawa serta peralatan medis portable canggih seperti EKG (elektrokardiogram) portabel, yang memungkinkan pendeteksian awal kelainan irama jantung pada anak secara cepat dan efisien. Dengan pendekatan pelayanan yang humanis dan ramah anak, tim kesehatan RSPAU hadir bukan hanya sebagai petugas medis, tetapi juga sebagai edukator dan sahabat bagi siswa-siswi yang diperiksa.

Selain skrining jantung, kegiatan ini juga mencakup pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT), pemeriksaan mata, penyuluhan dan praktik menyikat gigi bersama, serta penilaian status gizi anak. Seluruh pemeriksaan dirancang dengan suasana menyenangkan, agar anak-anak merasa nyaman dan tidak takut menghadapi proses pemeriksaan.

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP., hadir langsung meninjau pelaksanaan kegiatan, didampingi oleh Wakil Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Kolonel Kes dr. Dedy Afandi C. N., Sp. A., M. Sc., para pejabat RSPAU,  Kepala Puskesmas Depok 1 drg. Ning Khoirum, dan Kepala SDN 2 Adisutjipto Andri Noviati Fheasta, M.Pd. Beliau menyapa para siswa dan tenaga medis, serta memastikan seluruh tahapan berjalan aman dan sesuai standar.          

Ka RSPAU dr. S. hardjolukito menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya konkret TNI AU dalam membangun kesadaran kesehatan sejak dini.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membangun kesadaran bersama bahwa kesehatan anak adalah fondasi penting untuk masa depan bangsa. Ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI AU melalui RSPAU untuk menjaga aset masa depan bangsa yaitu anak-anak kita. Kami ingin membangun budaya sadar kesehatan sejak dini, karena dari sanalah kualitas bangsa dibentuk,” ungkapnya.

Antusiasme siswa dan guru terlihat tinggi. Tidak sedikit siswa yang baru pertama kali menjalani pemeriksaan jantung dengan alat EKG, yang menarik perhatian karena bentuk dan prosesnya yang unik. Foto kegiatan ini pun menyoroti momen pemeriksaan menggunakan alat EKG portable secara close-up, guna memperlihatkan bagaimana teknologi medis digunakan secara nyata dan langsung menyentuh masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelayanan kesehatan, tetapi juga edukasi bagi sekolah dan orang tua dalam memahami pentingnya deteksi dini dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak secara holistik. RSPAU terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program-program kesehatan masyarakat, sejalan dengan semangat Hari Bakti TNI AU ke-78 dan perintah pimpinan TNI AU. Ke depan, skrining serupa akan terus digelar secara berkala sebagai bagian dari Transformasi, Inovasi, dan Pelayanan Terbaik yang AMPUH: Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis. Humas RSPAU

RSPAU Gandeng Hotel Tentrem Yogyakarta untuk Tingkatkan Layanan Gizi Bertaraf Hotel Bintang Lima

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan gizi serta efisiensi pengelolaan sumber daya, Instalasi Gizi RSPAU dr. S. Hardjolukito melaksanakan kunjungan studi banding ke Hotel Tentrem Yogyakarta (15/7/25), sebuah hotel berbintang lima yang dikenal dengan standar tinggi dalam pengelolaan Food and Beverage (F&B). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan rumah sakit dalam mengembangkan kompetensi sumber daya manusia dan inovasi pelayanan.

Kegiatan kunjungan ini terdiri dari dua tahap. Pertama, kunjungan dari Chef Hotel Tentrem, Chef Afif, ke dapur Instalasi Gizi RSPAU, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan balasan dari tim Instalasi Gizi RSPAU ke dapur Hotel Tentrem Yogyakarta. Dalam kunjungan tersebut, Chef Afif memberikan sejumlah masukan konstruktif terkait peningkatan kualitas fasilitas dan peralatan dapur, mulai dari peremajaan peralatan, pemisahan fungsi wastafel, hingga penggantian meja kayu dengan meja berbahan stainless steel yang food grade.

Tim RSPAU yang dipimpin oleh Kabidum bersama Ka Instalasi Gizi dan Ka Humas RSPAU, turut mengobservasi seluruh area kitchen Hotel Tentrem Yogyakarta. Tim berkesempatan meninjau langsung manajemen operasional dapur profesional hotel, termasuk area restoran, dapur utama, dapur roti, area pemorsian, gudang bahan makanan, hingga ruang pembuangan limbah dapur.

Sistem pengelolaan kitchen Hotel Tentrem Yogyakarta dinilai sangat profesional, mulai dari kebersihan dapur yang dijaga dengan jadwal pembersihan setiap 4 jam, penggunaan jet spray dan epoxy untuk lantai, hingga sistem pendingin pada tempat pembuangan sisa makanan. Selain itu, manajemen sumber daya manusia yang menggunakan sistem 3 shift dengan total 120 personel juga menjadi salah satu poin inspiratif dalam kunjungan ini.

"Dari hasil kunjungan ini, kami memperoleh banyak referensi untuk pengembangan dapur Instalasi Gizi RSPAU, baik dari sisi manajemen, efisiensi, maupun inovasi dalam pelayanan makanan. Ini akan menjadi bahan penting dalam menyusun langkah strategis peningkatan mutu layanan ke depan," ungkap Letkol Kes Tri Harsono, S.TP, S,Gz., M.Gz., RD.

Melalui studi banding ini, RSPAU berharap dapat memperkuat layanan gizi yang tidak hanya memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang profesional dan inovatif, selaras dengan visi rumah sakit dalam memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pasien. Humas RSPAU