Daftar Berita

Informasi Layanan RSPAU dr. S. Hardjolukito

Informasi Layanan RSPAU dr. S. Hardjolukito
Sehubungan dengan Hari Libur Nasional & Cuti Bersama dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, maka:

???? Jumat, 5 September 2025

????Pelayanan Rawat Jalan TUTUP
✅ Hemodialisa tetap buka
✅ IGD & Rawat Inap melayani 24 jam

???? Info lebih lanjut: 0811-2280-8888 (Costumer Service)

Leptospirosis: Bahaya Tersembunyi di Balik Genangan Air

Leptospirosis merupakan salah satu penyakit menular yang sering muncul saat musim hujan, terutama ketika banjir melanda. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang biasanya hidup di tubuh hewan, terutama tikus. Ketika hewan-hewan tersebut buang air kecil, bakteri bisa bercampur dengan tanah maupun air, lalu masuk ke tubuh manusia melalui luka kecil di kulit, selaput lendir, bahkan melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi.

Di masyarakat, leptospirosis kerap dianggap penyakit ringan, padahal dampaknya bisa sangat berbahaya. Gejala awalnya sering menyerupai flu biasa, seperti demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot, hingga mata merah. Namun, bila diabaikan, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih serius, yang dikenal sebagai penyakit Weil. Pada tahap ini, bakteri menyerang organ vital, memicu kerusakan hati, gagal ginjal, perdarahan, dan tidak jarang berujung pada kematian.

Yang membuat leptospirosis berbahaya adalah kemiripan gejalanya dengan penyakit lain seperti demam berdarah atau malaria. Akibatnya, banyak orang yang terlambat menyadari bahwa mereka sudah terinfeksi. Padahal, jika ditangani sejak dini dengan pemberian antibiotik, penyakit ini sebenarnya dapat disembuhkan dengan baik.

Lingkungan memiliki peran besar dalam penyebaran leptospirosis. Daerah padat penduduk dengan sanitasi yang buruk, tumpukan sampah, atau genangan air yang tidak terurus menjadi tempat ideal bagi tikus untuk berkembang biak dan menyebarkan penyakit. Setiap kali musim hujan tiba, ancaman ini semakin nyata karena air banjir membawa serta kotoran dan urine hewan, menjadikannya media penularan yang sangat mudah diakses oleh manusia.

Meski begitu, leptospirosis sejatinya bisa dicegah. Kuncinya ada pada kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan kewaspadaan diri. Mengendalikan populasi tikus, menjaga rumah tetap bersih, serta menggunakan pelindung seperti sepatu bot ketika harus beraktivitas di area berair menjadi langkah sederhana namun penting. Begitu pula dengan kebiasaan mencuci tangan dan menutup luka sebelum bersentuhan dengan air yang kotor.

Leptospirosis mengingatkan kita bahwa kesehatan tidak bisa dipisahkan dari lingkungan tempat tinggal. Kebersihan, sanitasi, dan kesadaran untuk melindungi diri adalah benteng utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Maka dari itu, jika setelah terpapar banjir atau air tergenang tubuh mulai menunjukkan gejala demam, nyeri otot, dan mata memerah, jangan menunda untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Tindakan cepat bisa menjadi penyelamat nyawa.

 

Tren Kesehatan 2025: Mindful Eating, Longevity Tech, dan Wellness Lifestyle

Di era modern, kesehatan menjadi perhatian utama masyarakat. Tidak hanya soal olahraga rutin atau diet seimbang, tren kesehatan saat ini melibatkan pendekatan menyeluruh, mulai dari fisik, mental, hingga teknologi yang mendukung gaya hidup sehat. Tahun 2025, sejumlah tren menonjol menunjukkan bagaimana masyarakat mulai menempatkan kesehatan sebagai investasi jangka panjang.

Salah satu tren yang terus meningkat adalah mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh. Bukan sekadar menghitung kalori, mindful eating mengajak individu untuk memperhatikan apa yang mereka konsumsi, bagaimana cara makan, dan bagaimana tubuh merespon makanan tersebut. Dengan pendekatan ini, pencernaan menjadi lebih sehat, risiko obesitas berkurang, dan kesadaran terhadap kebiasaan makan meningkat. Pakar gizi menekankan bahwa mindful eating juga berdampak positif pada kesehatan mental karena seseorang belajar menghargai proses makan tanpa terburu-buru.

Selain itu, teknologi kesehatan modern atau longevity tech semakin menjadi sorotan. Berbagai startup dan perusahaan menghadirkan alat dan aplikasi yang memantau kondisi tubuh secara real-time, mulai dari tekanan darah, kadar gula, hingga kualitas tidur. Dengan data yang akurat, pengguna dapat melakukan intervensi lebih dini untuk mencegah penyakit kronis, seperti diabetes atau hipertensi. Tidak hanya itu, longevitas juga didukung oleh teknologi wearable yang membantu penggunanya mengelola stres, memantau aktivitas fisik, dan menjaga pola tidur. Tren ini menunjukkan perpaduan antara kesehatan fisik dan kecerdasan digital untuk gaya hidup yang lebih sehat dan terencana.

Fenomena lain yang makin populer adalah wellness tourism. Orang kini memilih liburan tidak hanya untuk bersantai, tetapi juga untuk meningkatkan kesehatan. Klinik dan resor kesehatan menawarkan paket detoksifikasi, yoga, terapi spa, hingga konseling mental. Tren ini menegaskan perubahan paradigma: kesehatan bukan sekadar mengobati penyakit, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Kegiatan wellness tourism memungkinkan masyarakat memulihkan tubuh, pikiran, dan jiwa sekaligus, sekaligus menjadi cara preventif untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Tak kalah penting, kesadaran akan kesehatan mental juga menjadi fokus utama. Konseling psikologi, meditasi, dan mindfulness menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Pakar kesehatan menekankan bahwa stres kronis dan kecemasan dapat memengaruhi kondisi fisik, sehingga perawatan mental tidak boleh diabaikan. Tren ini menggeser paradigma bahwa kesehatan adalah kesatuan antara tubuh dan pikiran.

Ahli kesehatan menegaskan bahwa tren-tren ini bukan sekadar gaya hidup sementara, tetapi bagian dari adaptasi manusia terhadap tuntutan zaman modern. pakar nutrisi dan wellness menyebutkan bahwa saat ini kesehatan adalah investasi jangka Panjang. Dengan pendekatan yang tepat, mulai dari pola makan, penggunaan teknologi, hingga perawatan mental, kita dapat hidup lebih sehat dan produktif.

Dengan berbagai inovasi dan pendekatan baru, masyarakat memiliki lebih banyak alat untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Tren ini menegaskan bahwa menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk menghadapi tuntutan kehidupan modern, meningkatkan kualitas hidup, dan memastikan kesejahteraan jangka panjang. Humas RSPAU

 

Resume survei kepuasan masyarakat

Terima Kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada seluruh masyarakat, pasien, dan keluarga atas partisipasi serta kepercayaan yang telah diberikan kepada RSPAU dr. S. Hardjolukito.

Dukungan Sobat Hardjo dalam Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) menjadi bagian penting dari perjalanan kami untuk terus memperbaiki diri dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih baik setiap harinya.

Pada SKM Triwulan II Tahun 2025, kami mencatat tingkat kepuasan masyarakat sebesar 93,75% (Sangat Baik). Hasil ini adalah cerminan dari kerja keras seluruh civitas hospitalia RSPAU serta kepercayaan yang tulus dari para pasien dan keluarga.

 Capaian ini bukan akhir, melainkan motivasi bagi kami untuk terus bertransformasi, berinovasi, dan melayani dengan hati, sejalan dengan semangat AMPUH (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, Humanis).

Terima kasih atas setiap senyum, saran, dan harapan yang Sobat Hardjo titipkan kepada kami. Bersama Sobat Hardjo, kami akan terus melangkah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik.

Bakti sosial operasi bibir sumbing

Setiap anak berhak tumbuh dengan senyum penuh percaya diri. Namun, tidak semua lahir dengan kesempatan yang sama. Dalam rangka HUT ke-13, RSPAU dr. S. Hardjolukito bersama Smile Train, Senyum Harapan Nusantara dan PABMI akan menyelenggarakan Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing.

Jumat, 3 Oktober 2025
RSPAU dr. S. Hardjolukito

Mari bersama wujudkan senyum penuh percaya diri untuk masa depan yang lebih cerah.

 Info & Pendaftaran: Kapten Kes drg. Astin (0812 2723 702)

Karena senyum indah tak hanya menguatkan hati, tapi juga menyembuhkan jiwa. ✨

Sebelum Menelan Pil, Cek Dulu Tanggal Kadaluwarsanya Ya!

Obat sering dianggap sebagai solusi cepat ketika tubuh menunjukkan gejala ketidaknyamanan. Sakit kepala, flu, batuk, hingga nyeri otot, kerap menjadi alasan utama kita langsung membuka lemari obat dan menelan pil yang tersedia. Namun, di balik kemudahan ini, tersembunyi risiko yang tak kalah serius: obat kadaluwarsa. Mengonsumsi obat yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa bukan hanya bisa mengurangi efektivitasnya, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh.

Sayangnya, banyak orang masih menganggap sepele pentingnya memeriksa tanggal kadaluwarsa. Bahkan, sebagian dari kita mungkin hanya sekadar melihat bentuk fisik obat—apakah warnanya masih sama, apakah kapsulnya masih utuh—tanpa menyadari bahwa kandungan kimia di dalamnya bisa berubah seiring waktu. Obat yang kadaluwarsa dapat kehilangan potensi penyembuhannya atau, dalam beberapa kasus, menjadi racun bagi organ tubuh. Misalnya, antibiotik yang sudah melewati masa berlaku tidak hanya menjadi kurang efektif, tetapi juga bisa memicu resistensi bakteri, sehingga justru memperburuk kondisi kesehatan.

Kesadaran untuk selalu memeriksa tanggal kadaluwarsa seharusnya menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, sama pentingnya dengan menjaga pola makan atau rutin berolahraga. Menyimpan obat di tempat yang tepat, jauh dari panas, lembap, dan sinar matahari langsung, adalah langkah sederhana namun krusial untuk menjaga kualitas obat. Jangan lupa juga untuk memisahkan obat-obatan yang sudah hampir habis masa berlakunya agar tidak tercampur dengan obat yang masih aman. Kebiasaan ini bisa mencegah risiko tertukar atau terpakai secara tidak sengaja.

Lebih dari sekedar kewaspadaan terhadap tanggal, penting bagi masyarakat untuk memahami fungsi dan dosis setiap obat yang dikonsumsi. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah bijak sebelum mengambil keputusan mengonsumsi obat, terutama obat bebas maupun yang diresepkan. Mengikuti dosis yang tepat, memperhatikan aturan minum, serta memastikan obat masih dalam kondisi baik, merupakan bentuk nyata menjaga kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Masyarakat juga didorong untuk membuang obat kadaluwarsa secara aman. Jangan hanya dibuang sembarangan ke wastafel atau tempat sampah rumah tangga. Banyak apotek dan fasilitas kesehatan menyediakan tempat pengumpulan obat kadaluwarsa, sehingga limbah farmasi tidak mencemari lingkungan dan tetap aman bagi masyarakat. Langkah kecil ini menunjukkan kepedulian tidak hanya terhadap kesehatan pribadi, tetapi juga terhadap keselamatan lingkungan.

Pada akhirnya, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang harus dijaga dengan bijak. Mengonsumsi obat tanpa memeriksa kadaluwarsanya ibarat menempuh jalan berliku tanpa peta; terlihat mudah, tapi risiko menumpuk di setiap tikungan. Mulailah membangun kesadaran sejak sekarang. Sebelum menelan pil berikutnya, luangkan waktu sejenak untuk memeriksa tanggal kadaluwarsanya, baca label dengan teliti, dan tanyakan pada tenaga kesehatan jika ragu. Kebiasaan sederhana ini bisa menjadi perisai bagi tubuh, menjaga kita tetap sehat dan aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dengan kesadaran kecil ini, kita tidak hanya melindungi diri dari risiko kesehatan, tetapi juga menunjukkan bahwa merawat tubuh adalah tindakan penuh tanggung jawab dan cinta terhadap diri sendiri. Ingat, obat adalah teman, bukan musuh asal digunakan dengan benar.

Saat Pancaroba Tiba, Kenapa Tubuh Kita Sering ‘Protes’?

Musim pancaroba, periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya, kerap menjadi momok bagi kesehatan. Fenomena alam ini membawa perubahan drastis pada suhu dan kelembapan udara, sehingga tubuh manusia harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang fluktuatif. Tidak heran jika banyak orang tiba-tiba merasa lemas, terserang flu, atau penyakit lainnya. Perubahan suhu yang tiba-tiba memaksa sistem imun bekerja ekstra keras, dan bagi sebagian orang yang daya tahan tubuhnya sedang menurun, serangan penyakit menjadi lebih mudah terjadi.

Selain faktor suhu, perubahan kelembapan juga memengaruhi pertumbuhan virus dan bakteri. Udara yang lembap, misalnya, merupakan lingkungan yang ideal bagi virus influenza dan pilek untuk berkembang biak. Di sisi lain, saat udara kering di pagi dan malam hari, saluran pernapasan manusia lebih mudah iritasi, sehingga risiko terserang batuk dan radang tenggorokan meningkat. Kondisi ini diperparah oleh pergeseran pola tidur dan aktivitas yang sering terjadi saat orang beradaptasi dengan cuaca yang tidak menentu. Kurang tidur, stres, dan pola makan yang tidak seimbang selama masa peralihan ini ikut menurunkan daya tahan tubuh, sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Tidak hanya penyakit ringan seperti flu dan batuk, musim pancaroba juga meningkatkan risiko penyakit yang lebih serius. Infeksi saluran pernapasan atas dapat berkembang menjadi pneumonia bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta, seperti asma atau diabetes. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum optimal atau sudah menurun. Tak jarang, rumah sakit dan puskesmas dipenuhi pasien yang datang dengan keluhan demam, pilek, hingga sesak napas. Fenomena ini menegaskan bahwa tubuh manusia tidak selalu siap menghadapi fluktuasi cuaca secara tiba-tiba.

Pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi musim pancaroba. Dokter dan ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat meningkatkan asupan gizi, cukup beristirahat, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Mengonsumsi makanan kaya vitamin C dan menjaga hidrasi tubuh menjadi langkah sederhana namun efektif dalam memperkuat sistem imun. Di sisi lain, mengenakan pakaian yang sesuai dengan suhu dan kelembapan, serta menghindari perubahan suhu ekstrem secara mendadak, dapat membantu tubuh beradaptasi lebih baik. Vaksinasi flu juga dianjurkan bagi kelompok rentan untuk meminimalkan risiko infeksi serius.

Musim pancaroba memang tak bisa dihindari, namun dengan kesadaran dan langkah-langkah preventif, tubuh bisa tetap sehat dan bugar. Perubahan cuaca yang cepat bukan hanya soal hujan atau panas; ia adalah ujian bagi daya tahan tubuh manusia. Dengan memperhatikan pola hidup sehat, menjaga kebersihan, serta melakukan deteksi dini terhadap gejala penyakit, masyarakat dapat melewati masa peralihan ini tanpa harus jatuh sakit. Akhirnya, memahami dinamika musim pancaroba berarti juga memahami kebutuhan tubuh kita untuk lebih adaptif, waspada, dan peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Humas RSPAU

 

Gadget untuk Anak: Bijak atau Bahaya?

Di era digital, gadget seperti tablet, smartphone, dan komputer telah menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak. Perangkat ini tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana belajar dan eksplorasi kreativitas. Namun, di balik manfaatnya, penggunaan gadget pada anak menimbulkan pertanyaan serius: apakah gadget mendukung perkembangan anak atau justru menimbulkan risiko bagi kesehatan dan psikologinya?

Gadget dapat menjadi alat belajar yang efektif jika digunakan dengan bijak. Berbagai aplikasi edukasi interaktif membantu anak mengembangkan kemampuan membaca, berhitung, dan kreativitas. Video pembelajaran, permainan edukatif, serta konten interaktif membuat proses belajar lebih menyenangkan dan menstimulasi rasa ingin tahu. Selain itu, gadget memudahkan komunikasi anak dengan keluarga yang jauh, sehingga anak tetap terhubung dengan orang-orang terdekat. Orang tua yang bijak menetapkan batasan waktu penggunaan gadget, memilih konten yang sesuai usia, dan mendampingi anak selama bermain atau belajar. Dengan cara ini, gadget dapat menjadi pendukung tumbuh kembang anak secara positif, bukan sekadar alat hiburan. Gadget juga dapat mengajarkan keterampilan digital yang penting di era modern, seperti literasi teknologi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Di sisi lain, penggunaan gadget tanpa pengawasan berpotensi menimbulkan dampak negatif. Paparan layar yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan penglihatan, kurang tidur, hingga obesitas karena anak cenderung kurang bergerak. Konten yang tidak sesuai usia juga bisa memengaruhi perilaku, emosional, dan kemampuan sosial anak. Dalam jangka panjang, kecanduan gadget dapat mengurangi interaksi anak dengan dunia nyata dan menimbulkan kesulitan dalam bersosialisasi. Selain itu, anak-anak yang terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar cenderung mengalami gangguan konsentrasi dan masalah emosi, seperti mudah marah atau frustrasi. Paparan media sosial pada usia dini juga dapat memengaruhi persepsi diri dan menimbulkan tekanan psikologis. Ahli perkembangan anak menekankan pentingnya pendampingan dan pengaturan waktu, agar anak terbiasa menjalani rutinitas seimbang antara aktivitas fisik, bermain di luar ruangan, belajar, dan penggunaan gadget.

Kunci agar gadget menjadi teman, bukan musuh, adalah edukasi digital sejak dini. Anak harus diajarkan cara menggunakan gadget secara bijak, mengenali konten yang aman, dan memahami pentingnya membatasi waktu layar. Orang tua dan guru memiliki peran besar dalam membimbing anak agar teknologi menjadi sarana pembelajaran dan hiburan yang sehat. Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan antara lain membatasi waktu layar sesuai usia, misalnya maksimal satu jam per hari untuk anak usia 2–5 tahun dan menyesuaikan kebutuhan belajar dan hiburan untuk usia lebih tua, memilih konten edukatif yang mendukung perkembangan kognitif, mendampingi anak saat menggunakan gadget, serta mengajarkan literasi digital agar anak mengenali bahaya informasi palsu dan memahami pentingnya privasi. Selain itu, penting bagi anak menjalani rutinitas seimbang dengan menggabungkan aktivitas fisik, permainan kreatif, dan interaksi sosial nyata.

Kesimpulannya, gadget untuk anak bisa menjadi alat yang bermanfaat atau sumber bahaya, tergantung pada cara penggunaannya. Dengan pengawasan, batasan waktu, dan edukasi digital, gadget dapat mendukung perkembangan anak secara positif, menstimulasi kreativitas, serta mengajarkan keterampilan abad 21. Sebaliknya, tanpa pengawasan, gadget berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan fisik, mental, dan sosial. Kesadaran orang tua, guru, dan masyarakat menjadi kunci agar anak-anak dapat memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan panduan yang tepat, gadget tidak lagi menjadi ancaman, melainkan alat untuk belajar, berkreasi, dan tumbuh dengan sehat di era digital. Humas RSPAU

 

Beban Tak Kasat Mata: Saatnya Memahami Sinyal Tubuh dan Pikiran

Bayangkan pagi yang cerah, alarm berbunyi, dan hari baru dimulai. Namun di dalam pikiran, terasa seperti beban berat yang tak terlihat, menekan dari semua sisi. Hati terasa sesak, pikiran berputar tanpa henti, dan tubuh seolah menuntut istirahat. Akhir-akhir ini, banyak dari kita mengalami momen seperti ini. Tidak ada yang salah dengan rutinitas atau pekerjaan, tetapi ada sesuatu yang menandakan tubuh dan pikiran mulai memberi sinyal: stres.

Stres, meskipun tak tampak secara fisik, mampu memengaruhi kualitas hidup, kesehatan, dan produktivitas. Bagi sebagian orang, tekanan ini muncul karena pekerjaan yang menumpuk, tenggat waktu yang menghantui, atau tanggung jawab keluarga yang tak kunjung selesai. Bagi yang lain, stres justru muncul dari hal-hal kecil—komentar pedas di media sosial, rasa bersalah karena belum cukup “produktif,” atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Gejala stres pun beragam. Ada yang mudah lelah, sulit tidur, kehilangan selera makan, hingga mengalami perubahan mood yang drastis. Stres berkepanjangan bisa memicu masalah serius, seperti hipertensi, depresi, atau penurunan daya tahan tubuh. Menurut survei terbaru, lebih dari separuh orang dewasa merasa stres meningkat dibandingkan lima tahun lalu, terutama akibat lingkungan kerja yang kompetitif, ekspektasi sosial, dan arus informasi yang tak henti-hentinya.

Namun, mengenali stres bukanlah hal yang sulit. Aktivitas fisik, seperti jogging, yoga, atau sekadar berjalan kaki, terbukti menurunkan hormon stres dan meningkatkan produksi endorfin, zat alami yang membuat kita merasa lebih bahagia. Selain itu, komunikasi dengan orang terdekat atau konseling profesional bisa memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi.

Selain itu, mengenali tanda-tanda stres sejak dini menjadi langkah preventif yang efektif. Catatan harian emosi, meditasi, atau aktivitas kreatif seperti menulis dan melukis membantu kita memahami kondisi diri. Dengan begitu, stres tidak lagi menjadi beban yang tak terlihat, tetapi sesuatu yang bisa dikelola dengan cara yang sehat dan terarah.

Tidak kalah penting, sikap terhadap diri sendiri menentukan cara menghadapi stres. Memberikan izin untuk istirahat, mengurangi tuntutan berlebihan, dan tidak menyalahkan diri sendiri adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan mental. Menyadari bahwa stres adalah sinyal tubuh dan pikiran, bukan kelemahan, membantu kita menghadapi tekanan dengan bijak.

Cerita nyata muncul dari mereka yang berhasil menemukan ritme baru setelah merasa stres berkepanjangan. Seorang pekerja kreatif mengaku awalnya mengabaikan rasa cemas dan terus bekerja hingga larut malam. Namun, setelah mulai rutin jogging dan memberi waktu untuk hobi sederhana seperti menulis, ia merasakan perubahan signifikan: pikirannya lebih jernih, emosinya lebih stabil, dan tubuhnya lebih bugar. “Merawat diri sendiri bukan egois, tapi justru membuat saya lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya.

Di era yang serba cepat ini, mengakui bahwa kita sedang stres bukanlah kelemahan. Ini adalah bentuk kesadaran diri dan langkah awal untuk merawat kesehatan mental. Memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat, tubuh untuk bergerak, dan hati untuk melepaskan beban, menjadi kunci agar kita tetap produktif, sehat, dan bahagia.

Stres mungkin tak terlihat, tapi dampaknya nyata. Dengan memahami, mengenali, dan mengelola stres, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan. Saat pikiran meminta istirahat, jangan abaikan. Karena di balik setiap napas yang tenang dan senyum yang tulus, ada kekuatan untuk memulai hari lagi dengan energi baru. Humas RSPAU

RSPAU Bagikan Hadiah untuk Pemenang Lomba HUT RI dan Prestasi Nasional

Langit cerah pagi ini menjadi saksi semangat kebersamaan keluarga besar RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito. Usai bendera Merah Putih berkibar gagah diiringi lagu kebangsaan, halaman rumah sakit mendadak penuh warna, bukan lagi barisan upacara, melainkan sorak gembira, tepuk tangan, dan senyum lebar dari civitas hospitalia. Inilah saat yang ditunggu-tunggu: penyerahan hadiah lomba dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Keceriaan semakin terasa ketika nama-nama pemenang mulai dipanggil. Dalam lomba yel-yel, semangat tim Personel, Set, Diklat, dan Kordik berhasil mengantarkan mereka ke podium juara pertama. Kreativitas tim Instalasi Gizi, Instalasi Farmasi, dan Infolahta membawa pulang juara kedua, sementara energi dari tim ICU, NICU, PICU, dan ICCU mengukuhkan mereka sebagai juara ketiga. Pada lomba estafet, kekompakan tim Instalasi Gizi, Instalasi Farmasi, dan Infolahta membuat mereka finish di posisi puncak, diikuti tim Personel, Set, Diklat, Kordik di posisi kedua, serta Murai, Kutilang, dan Cendrawasih di posisi ketiga. Pawai merdeka pun tak kalah meriah, dengan Instalasi Gizi, Instalasi Farmasi, dan Infolahta kembali meraih juara pertama, disusul Ruang Rawat Inap Murai, Kutilang, dan Cendrawasih di posisi kedua, serta TAUD dan Harsarpras di posisi ketiga.

Rangkaian perlombaan lain juga menghadirkan cerita tersendiri. Dalam cerdas cermat, tim HD tampil paling tangkas dan meraih juara pertama, sedangkan gabungan Cendrawasih, Murai, dan Kutilang berada di posisi kedua, serta Infolahta yang merebut juara ketiga. Lomba menyanyi menghadirkan kejutan dengan suara merdu TL Tiara Adrikni, A. Md. Kep dari ruang ICU yang memukau penonton hingga dinobatkan sebagai juara pertama, diikuti Letkol Kes Amino Putri F. P., S.T. Analis Kes., M. Tr. SOU dari Bidjang sebagai juara kedua, dan PNS Maya Ristiyani, A. Md. Kep dari Ruang Rawat Inap Merak di urutan ketiga.

Kebanggaan RSPAU tak hanya berhenti di internal. Dari ajang JCU (Jogja Cardio Update) 2025 tingkat nasional, dokter-dokter umum muda membawa kabar gembira. TL dr. Pramudito Cahyo Januaryadi dan TL dr. Salma Rasyidah sukses meraih Juara Harapan II di kategori ECG Championship. Sementara itu, TL dr. Haidar Ali Hamzah menorehkan prestasi sebagai 1st Runner Up dalam kategori Oral Presentation (Original Research). 

Lebih dari sekedar daftar pemenang, perayaan ini memantulkan semangat kekompakan, sportivitas, dan rasa syukur. Di balik setiap yel-yel penuh energi, langkah estafet yang kompak, hingga nada merdu yang menggema, ada kebersamaan yang menyatukan seluruh keluarga besar RSPAU. Perayaan HUT Kemerdekaan pun menjadi momen untuk meneguhkan semangat: bekerja, berinovasi, dan berjuang bersama demi melayani yang terbaik. Humas RSPAU

Dirgahayu Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Ke-27

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito beserta Ketua PIA AG Anak Ranting 001-05-3 RSPAU dr. S. Hardjolukito dan seluruh Civitas Hospitalia RSPAU mengucapkan :

Dirgahayu Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Ke-27

Semoga PPAU senantiasa menjadi wadah yang kokoh dalam menjaga persatuan, mempererat silaturahmi, serta meneruskan semangat juang dan pengabdian bagi bangsa dan negara